Cerita tahun depan tentu bukan milik Bitcoin sendirian. Stablecoin diproyeksikan akan meledak, dengan pertumbuhan pasokan global bisa lebih dari 50%. Integrasinya ke sistem pembayaran sehari-hari dan dukungan regulasi akan mengubahnya dari sekadar alat di dalam ekosistem kripto menjadi jembatan nyata ke keuangan tradisional.
Regulasi sendiri sedang mencari bentuknya. Di AS ada Clarity Act, di Indonesia RUU P2SK sedang digodok. Banyak yang menganggap regulasi sebagai musuh, tapi Fyqieh punya pandangan lain.
Ini proses pendewasaan yang perlu dilalui, meski kadang berdarah-darah.
Titik Belok yang Menentukan
Jadi, 2026 akan menjadi tahun bagi mereka yang sabar dan jeli. Awal tahun mungkin masih volatile, dipenuhi ketegangan menunggu sinyal dari The Fed. Tapi pelan-pelan, ruang untuk pemulihan akan terbuka.
Kuncinya ada di dua level teknis. Menurut Fyqieh, penembusan di atas 105.000 dolar AS akan membuka jalan penguatan yang lebih luas. Sebaliknya, jika benteng 80.000 dolar jebol, koreksi yang lebih dalam dan panjang bisa terjadi.
Pada akhirnya, semua dinamika rumit ini suku bunga, arus institusi, sentimen hanya menunggu sebuah pemicu. Mungkin sebuah ledakan volume, berita regulasi mengejutkan, atau keputusan moneter yang tak terduga. Saat itulah labirin ini akan menemukan pintu keluar.
Pertanyaan besarnya tetap: akankah 2026 menjadi tahun dimulainya siklus bull market baru, atau hanya fase konsolidasi panjang sebelum badai berikutnya? Jawabannya belum tertulis. Tapi bisikan dari pergerakan 10.000 Bitcoin itu dan meredanya arus keluar ETF adalah petunjuk awal. Di balik ketegangan The Fed, arus bawah terus bergerak, menyiapkan panggung untuk babak berikutnya dalam revolusi digital ini.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Penanganan Banjir Bandang Sumatera Tak Perlu Label Bencana Nasional
Tahun Baru Hanya Ilusi? Mengapa Otak Kita Terjebak dalam Awal Baru
Kemacetan Parah Melanda Tol Jagorawi, Jalur ke Puncak Ditutup Sementara
Dua Mantan Presiden Siap Jalani Jalur Hukum Atas Isu Ijazah