Si Paling Budaya dirujak Netizen 😂
Berbudaya itu memang keren. Tapi kalau cuma klaim tanpa bekal pengetahuan sejarah yang memadai? Ya siap-siap saja jadi bahan omongan, bahkan bahan tertawaan. Begitulah kira-kira yang terjadi belakangan ini.
Ambil contoh Batu Yoni. Benda ini bukan sekadar batu biasa, melainkan artefak kuno yang bentuknya menyerupai vulva. Asalnya dari India, dan merupakan simbol Dewi Parwati. Dalam ritual Hindu, Yoni kerap dipasangkan dengan Lingga yang melambangkan Dewa Siwa sebagai perlambang penyatuan dan penciptaan. Keberadaannya di candi-candi Jawa adalah bukti nyata bagaimana pengaruh Hindu dari India meresap dalam ritual kesuburan masyarakat Jawa kuno.
Lalu ada Blangkon. Banyak yang mengira ini murni budaya Jawa. Padahal, akarnya justru dari percampuran budaya yang menarik. Dulu, para pedagang Muslim dari Gujarat biasa memakai sorban. Gaya berbusana itu kemudian menginspirasi masyarakat lokal untuk memakai ikat kepala serupa.
Dari situ, terjadi asimilasi. Ikat kepala yang awalnya berupa kain panjang yang diikat manual, lambat laun berubah bentuk. Muncul inovasi penutup kepala yang praktis, siap pakai. Nah, dari kata “blangko” (siap pakai) inilah kemudian lahir sebutan “blangkon” yang kita kenal sekarang.
Bagaimana dengan kemeja
Jauh sebelum menjadi busana formal, konsep pakaian atasan seperti kemeja sudah ada di Mesir kuno, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Arkeolog Flinders Petrie pernah menemukan kemeja linen yang “sangat canggih” di sebuah makam. Desainnya sudah memikirkan bentuk bahu dan lengan yang pas, menunjukkan tingkat kerumitan yang tinggi untuk zamannya.
Perkembangannya di Eropa juga menarik. Awalnya, kemeja dianggap sebagai pakaian dalam pria, biasanya dari linen. Baru pada abad ke-18 dan 19, ia naik kelas jadi pakaian luar yang melambangkan formalitas. Trennya terus berubah; pada tahun 1970-an, kemeja pria hadir dengan warna dan corak yang beragam. Perempuan pun mulai mengadopsi gaya serupa dengan memakai blus.
Lalu, dari mana kata “kemeja” muncul di Indonesia?
Istilah itu diserap dari bahasa Portugis, camisa. Ini sekadar satu dari sekian banyak jejak pengaruh perdagangan dan budaya Portugis yang sempat singgah di Nusantara.
Jadi, budaya itu memang seperti sungai selalu dinamis, mengalir, dan menerima sumbangan dari berbagai anak sungai. Klaim “paling” atas sesuatu yang sejatinya hasil percampuran panjang, selain kurang tepat, juga bisa bikin kita tersandung pada sejarah itu sendiri.
-demikian-
Artikel Terkait
Premier League 2026: Pemain Muslim Klub-Klub Top Jalani Ramadan Sambil Bertanding
Ragam Pilihan Ngabuburit di Makassar, dari Pantai hingga Kuliner Tradisional
BMKG Prediksi 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Sidang Isbat Tunggu Hasil Rukyat
Yenny Wahid: Hormati Perbedaan Penetapan Awal Ramadan