Di sisi lain, dari sudut pandang teknis, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin memberikan gambaran yang lebih rinci. Dua unit mobil Water Treatment Plant (WTP) yang dikirim punya kapasitas produksi yang cukup mengesankan: sekitar 1 liter per detik.
“Itu cepat sekali,” ungkap Arief. “Dalam hitungan menit, air sudah bisa diproses dan kemudian bisa keluar langsung menjadi air bersih dan siap minum.”
Rahasianya ada pada sistem reverse osmosis (RO) yang terpasang di mobil tersebut. Dengan teknologi ini, air sungai yang diolah bisa langsung layak konsumsi. Selain peralatan canggih itu, PAM Jaya juga mengirimkan sepuluh mobil tangki yang statusnya dipinjamkan hingga kebutuhan di lapangan benar-benar terpenuhi.
Tak lupa, tim medis dan tim teknis turut dikirim. Alasannya sederhana namun mendasar.
“Karena informasi terakhir air bersih masih menjadi salah satu kebutuhan utama di sana,” kata Arief melaporkan kepada Gubernur.
Jadi, bantuan yang berangkat hari itu bukan sekadar pengiriman logistik biasa. Lebih dari itu, ini adalah upaya konkret mengatasi darurat yang paling mendasar: menyediakan air minum untuk yang membutuhkan.
Artikel Terkait
Jenazah Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Paria Barru, Diduga Korban Tenggelam Saat Cari Kerang
Kisah Prajurit Ngatijan dan Ilmu Kebal yang Selamatkan Rekan dari Tembakan Belanda di Papua
Polri dan Kemenhaj Bentuk Satgas Khusus untuk Berantas Penipuan Haji dan Umrah
Ledakan Tabung Gas di Pabrik Gizi Ngawi Lukai Satu Pekerja