MURIANETWORK.COM - Seorang ibu bernama Nirwana memohon dengan penuh haru kepada Presiden Prabowo Subianto dan aparat penegak hukum untuk membebaskan anaknya, Fandi Ramadhan, dari tuntutan hukuman mati. Pertemuan dengan pengacara kondang Hotman Paris di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (20/2/2026), menjadi momen di mana Nirwana menyuarakan keyakinannya bahwa anaknya tidak bersalah. Fandi, yang berprofesi sebagai Anak Buah Kapal (ABK), terjerat kasus penyelundupan narkoba internasional dengan barang bukti sekitar dua ton sabu.
Permohonan Ibu untuk Anak yang Dituduh
Dalam pertemuan yang penuh emosi itu, air mata Nirwana tak terbendung. Ia bersikeras bahwa putranya sama sekali tidak mengetahui isi dari 67 kardus yang ada di kapal tempatnya bekerja. Menurut penuturannya, Fandi baru tiga hari berlayar ketika insiden terjadi, sebuah fakta yang ia anggap memperkuat ketidaktahuan anaknya.
“Harapan saya, anak saya mohon dibebaskan, kepada Ibu ketua hakim, kepada bapak jaksa, kepada bapak presiden tolonglah bantu anak saya. Karena anak saya tidak tahu barang itu apa isinya. Kalau dia tahu mana mungkin dia mau ikut,” ungkap Nirwana.
Keyakinan atas Ketidakbersalahan
Nirwana menyatakan ketidakterimaannya atas tuntutan yang dihadapi Fandi. Ia menggambarkan anaknya sebagai harapan dan tulang punggung keluarga, yang dibesarkan jauh dari dunia narkoba. Rasa tidak ikhlas itu begitu mendalam, membuatnya mempertanyakan dasar dari tuduhan berat tersebut.
“Saya enggak ikhlas anak saya dituntut mati karena dia tidak mengetahui itu barang, tidak terlibat dengan jaringan narkoba sebanyak itu, apalagi dia dengan posisi baru berlayar. Jadi dimana salahnya? Makanya saya gak terima anak saya dialah harapan kami, dialah kebanggaan keluarga, dialah tulang punggung kami,” lanjutnya.
Pengorbanan Seorang Ibu
Keputusasaan dan keyakinan akan ketidakbersalahan Fandi bahkan mendorong Nirwana pada sebuah pernyataan yang mengharukan. Ia menyatakan kesediaannya untuk menggantikan posisi anaknya jika hukuman itu benar-benar harus dijalankan, sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa dalamnya ikatan dan keyakinan seorang ibu.
“Saya enggak mau anak saya dihukum mati, biarlah saya yang jadi gantinya, saya rela, saya ikhlas demi anak saya. Makanya saya bermohon kepada Bapak Presiden Prabowo tolonglah bantu saya. Saya orang yang tak punya, orang susah kemana lagi saya minta tolong kecuali sama beliau karena dialah harapan saya satu-satunya,” tuturnya.
Permohonan ini menambah dimensi manusiawi dalam kasus hukum yang kompleks, menyoroti pergulatan keluarga di balik tirai proses peradilan pidana berat. Kasus ini terus berkembang dan menarik perhatian publik, menunggu proses hukum selanjutnya.
Artikel Terkait
Gavi Dinyatakan Fit, Barcelona Siapkan Pemain untuk Laga Penentu
Pekerja Gudang di Serang Tewas Tertimpa Tumpukan Kaca
Kesalahan Kiper PSM Picu Kemenangan Tipis Persija atas PSM di JIS
Angin Puting Beliung Terjang Dua Desa di Jember, Ratusan Pohon Tumbang dan Rumah Rusak