“Asesmennya sangat sederhana, tidak ada asesmen formatif atau sumatif yang kompleks,” lanjutnya. “Fokus pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid.”
Nah, kalau kondisi berangsur membaik, masuklah ke skenario kedua untuk periode 3 hingga 12 bulan. Fase ini untuk sekolah-sekolah yang butuh waktu lama dibangun kembali. Di sini, kurikulumnya mulai diadaptasi dengan konteks kebencanaan.
“Kurikulum adaptif berbasis krisis, integrasi mitigasi bencana ke mata pelajaran yang relevan,” jelas Mu’ti.
Pembelajaran juga dibuat lebih luwes. Misalnya, jadwal menyesuaikan kondisi siswa yang mungkin masih mengungsi, atau menerapkan sistem blended learning jika memungkinkan. Penilaiannya pun bergeser, lebih mengandalkan portofolio dan mengawasi perkembangan sosio-emosional anak didik.
Lalu, untuk pemulihan benar-benar total, ada skenario ketiga yang dirancang untuk jangka panjang: 1 sampai 3 tahun ke depan. Skenario ini khusus bagi wilayah yang harus membangun sekolah baru dari nol.
“Karena beberapa sekolah ada yang memang betul-betul hilang dan harus dibangun sekolah baru yang memang waktunya membutuhkan waktu lebih dari satu tahun,” ujar Mu’ti.
Pada fase akhir ini, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen. Fokusnya adalah penguatan kualitas belajar, menciptakan pembelajaran inklusif yang tahan banting, serta membangun sistem monitoring yang kuat untuk evaluasi berkelanjutan. Intinya, membangun kembali, tapi dengan fondasi yang lebih kokoh.
Artikel Terkait
Karcis Parkir Tak Sesuai Picu Pengeroyokan Juru Parkir di Makassar
Proyek Wisata Green Topejawa Mangkrak, Aktivis Desak Audit Total
Kejari Barru Resmikan Mess Pegawai 16 Kamar, Dukung Program Zero Indekos
Barcelona Tumbang 0-2 dari Atletico Madrid di Leg Pertama Perempat Final