Belum Reda Duka Aceh & Sumatera, Kini Muncul Teror untuk Sherly Annavita
Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.
Siang tadi, beranda Facebook saya tiba-tiba dihiasi status yang bikin merinding. Sherly Annavita menulis dengan huruf kapital, "SAYA DITEROR!!! YUK BAGIKAN AGAR JADI KESADARAN BERSAMA." Begitu kira-kira bunyinya. Langsung saja saya baca detailnya, dan ternyata dia sedang menghadapi teror beruntun sejak beberapa hari terakhir.
Bukan main. Bukan cuma telepon ancaman atau DM Instagram yang penuh makian dari akun-akun tak jelas. Mobil pribadinya disemprot cat merah. Lebih parah lagi, ada yang mengirimkan telur busuk ke tempatnya lengkap dengan pesan ancaman yang mengintimidasi.
Menurut pengakuannya, semua ini mulai terjadi setelah dia pulang dari Aceh. Sherly baru saja membagikan pengalaman langsungnya dari lokasi bencana ke beberapa media. Kebetulan, saya dan dia satu panggung di acara 'Rakyat Bersuara' INEWS TV, Selasa malam (23 Desember 2025) lalu.
Di situ, dia menyampaikan dua poin penting.
Pertama, soal hilangnya komando dari pusat. Sherly melihat para relawan dan pemerintah daerah seperti kehilangan arah, bingung harus berkoordinasi dengan siapa. Padahal, menurutnya, kehadiran komando pusat itu krusial banget. Tanpa itu, sinergi antara sumber daya pemerintah dan relawan jadi buyar, dan penanganan bencana jadi kurang efektif.
Kedua, dia mendesak pemerintah agar menetapkan banjir di Aceh dan Sumatera sebagai bencana nasional. Termasuk, membuka pintu untuk bantuan asing.
Nah, soal bantuan luar negeri ini, Sherly agak keras. Dia membandingkannya dengan utang berbunga yang biasa diterima pemerintah. "Kalau bantuan tanpa bunga, masa iya ditolak?" kira-kira begitu sindirannya.
Saya sendiri, dalam kesempatan itu, mengingatkan soal dua fungsi pemimpin: sebagai Ra'in (pelayan) dan Junnah (perisai).
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya."
"Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya."
(HR Muttafaqun ’Alayh)
Saya juga menyoroti akar masalahnya: deforestasi. Khususnya alih fungsi hutan jadi kebun sawit. Ingat audit besar-besaran 9 juta hektar lahan sawit di era Luhut Panjaitan? Hasilnya, 3,3 juta hektar ternyata ilegal karena merambah hutan. Tapi alih-alih ditindak, malah diputihkan. Sungguh ironis.
Belum lagi gaya pejabat yang di tengah nestapa warga masih sibuk cari pencitraan. Dari foto-foto menggendong karung beras sampai klaim listrik sudah menyala, padahal faktanya gelap gulita.
Entah kebetulan atau tidak, esok harinya Rabu sore (24/12) Presiden Prabowo tiba-tiba menggelar konferensi pers soal penyitaan triliunan rupiah dari lahan sawit nakal. Tapi yang bikin publik bertanya-tanya: di mana para tersangkanya? Kok cuma uangnya yang disita?
Nah, kalau mau ditimbang, kritik yang saya sampaikan di acara itu sebenarnya jauh lebih tajam. Tapi anehnya, para teroris pengecut ini cuma berani menargetkan pihak yang mereka anggap lemah: seorang perempuan.
Padahal, saat bertemu Sherly, saya justru menangkap aura keberanian dan keteguhan yang kuat dari dirinya. Dia bukan tipe yang mudah menyerah. Jadi, siapa pun yang berharap teror ini akan membuatnya diam, jelas keliru besar.
Mari kita terus dukung Sherly dan para pejuang kemanusiaan lainnya. Lawan oligarki jahat yang tega membabat hutan dan mengorbankan keselamatan rakyat. Jangan lelah untuk terus menjaga negeri ini. (")
Artikel Terkait
Mahfud MD Dorong Profesional Manfaatkan Jalur RPL di UTM, Sebut Lebih Terhormat Daripada Gelar Kehormatan
Program Makan Bergizi Gratis Serap Lebih dari 1 Juta Tenaga Kerja
Komnas HAM Kutuk Penembakan Pesawat di Papua dan Desak Penegakan Hukum Transparan
Anggota DPR Desak Proses Hukum Guru di Jember yang Telanjangi 22 Siswa