Kesalehan yang Gagap dan Moral yang Sunyi

- Selasa, 30 Desember 2025 | 12:50 WIB
Kesalehan yang Gagap dan Moral yang Sunyi

Yang Tak Mencari Panggung: Sebuah Renungan

Aku bicara pada diriku sendiri. Kenapa? Mungkin karena dunia di luar sudah terlalu berisik, terlalu penuh dengan suara yang saling teriak. Semua tentang kesuksesan, kekuasaan, atau kesalehan yang dipajang. Tapi di sini, di ruang batin yang sunyi ini, dusta tak punya tempat. Tuhan tak butuh pengeras suara untuk didengar. Nurani sendiri sudah jadi mimbar yang paling jujur.

Pertanyaan yang mengusik justru sederhana: kok bisa ya, nilai seorang manusia sekarang cuma dilihat dari apa yang tampak? Bukan dari apa yang dia pegang teguh dan pertanggungjawabkan. Lidah begitu lincah menyebut asma Tuhan, tapi tangan entah kenapa masih ringan menyakiti. Ayat-ayat suci bertebaran di panggung politik, diperdagangkan, sementara keadilan malah terlunta-lunta di lorong-lorong gelap kehidupan kita.

Yang bikin ngeri sebenarnya bukan dosa yang kentara. Tapi kebiasaan kita membungkus dosa itu dengan dalih agama. Membenarkan yang salah dengan cap 'suci'. Di situlah awal kehancuran saat manusia tak lagi merasa bersalah, malah merasa paling benar.

Lihatlah kesalehan jaman sekarang. Seringkali ia kehilangan rasa malu. Berjalan gagah dengan simbol-simbol di badan, tapi pincang dalam hal empati. Fasih sekali menghakimi orang lain, tapi begitu gagap ketika diminta untuk sekadar mengasihi.

Pada akhirnya, Tuhan tak pernah kekurangan pembela. Justru kitalah, manusia, yang selalu kekurangan kejujuran. Nama-Nya kerap dipakai untuk mengangkat ego, bukan merendahkan hati. Padahal, pesan semua ajaran suci itu intinya sama: peganglah kebenaran, meski itu harus melawan dirimu sendiri.

Derajat tinggi bukan milik mereka yang teriak paling keras tentang moral. Tapi mereka yang diam-diam menjaga moral itu saat sepi, saat tak ada kamera, tak ada pujian, dan tak ada untungnya sama sekali. Moral sejati itu memang sepi peminat. Sebab ia menuntut pengorbanan, bukan cuma tepuk tangan.

Masyarakat kita sibuk membangun citra. Tapi lalai membangun karakter. Orang berlomba tampak saleh, tapi enggan berlaku adil. Korupsi dibungkus dengan doa bersama. Ketidakjujuran disamarkan dengan retorika yang indah. Penindasan pun bisa tiba-tiba jadi 'sah' hanya dengan tafsir yang dipelintir.

Lalu, di mana Tuhan dalam semua keributan ini?

Jawabannya menusuk: Tuhan tetap di tempat-Nya. Kitalah yang menjauh. Bukan dengan langkah kaki, tapi dengan kompromi-kompromi moral yang kita lakukan berulang kali, setiap hari.

Agama seharusnya jadi cermin untuk introspeksi, bukan topeng untuk bersolek. Fungsinya menelanjangi kesombongan, bukan merapikannya. Tujuannya membebaskan kita dari kerakusan, bukan malah memberi alasan untuk terus serakah.

Namun begitu, kenyataannya sering berbeda. Agama kini jadi alat legitimasi. Legitimasi untuk berkuasa tanpa akhlak. Untuk bicara lantang tentang kebenaran, tapi tanpa niat untuk berlaku adil. Yang lemah disuruh sabar dan bersyukur. Sementara yang kuat bebas menumpuk pelanggaran. Ini bukan kesalehan. Ini pengkhianatan yang tersusun rapi.

Kadang aku harus bicara keras pada diriku sendiri: jangan bangga jadi orang benar, kalau itu membuatmu kehilangan belas kasihan. Sebab kebenaran tanpa kasih itu cuma seperti palu. Dan manusia bukan paku yang harus dipukuli.

Nilai kita di hadapan-Nya tak diukur dari seberapa sering kita bicara tentang surga. Tapi dari seberapa sedikit kita ciptakan neraka untuk orang lain. Bukan dari lantangnya suara doa, tapi dari jujurnya kita dalam bekerja. Bukan dari simbol di tubuh, tapi dari keadilan dalam setiap keputusan.

Jujur, aku muak melihat moral jadi barang tawar-menawar. Hari ini diagungkan, besok dilanggar, lusa dibenarkan lagi. Prinsip dipakai layaknya baju: dipilih yang cocok untuk acara tertentu, lalu dilepas saat mulai mengganggu kenyamanan.

Padahal, menjaga moral itu ibadah yang paling sunyi. Dan paling berat. Ia tak selalu terlihat suci, tapi selalu terasa benar. Seringkali, pilihan moral itu bikin kita kalah di mata dunia. Tapi justru di situlah kemenangan spiritualnya.

Karena itu, aku memilih untuk kalah dengan jujur. Daripada menang dengan tipu daya. Sebab kemenangan tanpa integritas cuma penundaan kehancuran belaka. Kekalahan yang bermartabat jauh lebih dekat pada Tuhan, ketimbang kesuksesan yang dibangun di atas kebohongan.

Manusia mulia bukan yang tak pernah tergoda. Tapi yang tahu batas, dan punya keberanian untuk berhenti. Yang paham bahwa kekuasaan itu ujian, bukan bukti keutamaan. Yang sadar bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban bukan cuma di pengadilan manusia, tapi di hadapan keadilan Ilahi yang tak bisa ditawar.

Aku akhiri renungan ini bukan dengan kesimpulan, tapi pengakuan:
Aku masih belajar untuk jujur, di saat berbohong terasa lebih aman.
Aku masih belajar untuk adil, ketika keberpihakan jelas lebih menguntungkan.
Aku masih belajar rendah hati, setiap kali pujian datang menghampiri.

Tapi satu hal yang aku yakini: selama aku berpegang pada kejujuran dan moral, biarlah dunia menertawakan. Derajatku takkan jatuh karenanya. Malah, mungkin sedang ditinggikan bukan oleh manusia, tapi oleh kebenaran itu sendiri yang abadi.

Dan itu sudah cukup.

Karena aku memang tak pernah mencari panggung. Tabik.

(ahm301225)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar