Kalau dilihat sekilas, desainnya memang berbeda. Uang 25 pound bergambar buah mulberry. Lalu ada 50 pound dengan jeruk, 200 pound menghadirkan zaitun, dan 500 pound dihiasi bulir gandum. Semuanya gambar flora, tak ada satupun wajah tokoh.
Namun begitu, Al-Syar’a mengingatkan agar masyarakat tidak salah paham. Menghapus beberapa nol dari nominal uang lama bukan jaminan ekonomi langsung membaik. “Itu cuma mempermudah transaksi sehari-hari,” katanya.
Ekonomi, lanjutnya, hanya bisa bangkit lewat peningkatan produksi dan penurunan pengangguran. Sektor perbankan yang sehat juga jadi kunci, karena ibarat pembuluh darah bagi perekonomian negara.
Proses pergantian ini sendiri diakui Al-Syar’a sangat sensitif dan rumit. Yang terpenting, kata dia, adalah mencegah kepanikan massal. “Jangan terburu-buru menukar uang lama. Semua akan diganti, kok,” pesannya.
Kepanikan justru bisa merugikan nilai tukar pound itu sendiri.
Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral Husrieh sudah lebih dulu memberi sinyal. Pekan lalu ia menyebut peralihan akan berjalan lancar dan terorganisir. Pedoman teknisnya akan diumumkan kemudian.
Yang pasti, nilai tukar tidak akan dipengaruhi oleh pergantian fisik uang ini. Tujuannya justru mendorong masyarakat agar tetap menggunakan pound Suriah untuk transaksi harian.
Masa penukaran ditetapkan 90 hari. Bisa saja diperpanjang jika situasi mengharuskan. “Selama masa transisi, harga barang akan dicantumkan dalam dua mata uang, lama dan baru,” jelas Husrieh, seperti dikutip SANA.
Bank Sentral juga akan menggelar kampanye media besar-besaran. Tujuannya jelas: mendampingi masyarakat dan menjelaskan detail teknis pergantian uang ini dalam hari-hari mendatang.
Artikel Terkait
Malaysia dan Filipina Gagal Lolos, Empat Wakil ASEAN Siap Berlaga di Piala Asia 2027
Kebakaran Ruko di Wamena Tewaskan 11 Orang, Termasuk Balita 2 Tahun
Dua Jembatan di Bondowoso Ambles Diterjang Hujan Deras
Dua Wisatawan Tewas Terseret Arus di Sungai Kalimborang Maros