Tanggal 30 Desember selalu menyisakan kesan mendalam. Bukan cuma soal pergantian tahun yang tinggal hitungan jam, tapi juga karena beberapa peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lain. Rasanya, hari ini adalah hari untuk mengenang.
Bagi banyak orang Indonesia, tentu yang pertama terlintas adalah kepergian Gus Dur. Abdurrahman Wahid, presiden keempat kita, meninggal dunia di Jakarta tepat pada 30 Desember 2009. Ia wafat dalam usia 69 tahun.
Gus Dur bukan sekadar mantan presiden. Ia adalah tokoh Muslim yang sangat dihormati, mantan Ketua Tanfidziyah NU, dan juga pendiri PKB. Karir politik puncaknya dimulai ketika ia terpilih lewat Sidang Umum MPR tahun 1999, menggantikan B.J. Habibie. Kabinet Persatuan Nasional dibentuknya untuk memimpin negeri ini.
Namun begitu, masa jabatannya harus berakhir lebih cepat. Pada 23 Juli 2001, mandatnya dicabut dalam Sidang Istimewa MPR dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Meski singkat, kepemimpinannya meninggalkan warisan toleransi dan pluralisme yang masih dikenang sampai sekarang.
Di sisi lain, di panggung dunia, tanggal yang sama juga mencatat akhir yang dramatis bagi seorang diktator. Saddam Hussein, mantan Presiden Irak, dieksekusi mati dengan cara digantung pada 30 Desember 2006. Usianya juga 69 tahun.
Saddam berkuasa dengan tangan besi sejak 1979. Kekuasaannya runtuh setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, yang berujung pada penangkapannya. Dua minggu setelah eksekusinya, dua orang pembantunya, Awad al-Bandar dan Barzan al-Tikriti, menyusul. Eksekusi Barzan sendiri jadi perbincangan luas karena terjadi insiden mengerikan: kepalanya terlepas dari tubuh saat hukuman dijalankan.
Melompat ke Filipina, 30 Desember juga punya makna politik. Hari itu adalah hari ketika Ferdinand Marcos secara resmi mulai menjabat sebagai presiden. Pria kelahiran 1917 ini kemudian menjadi salah satu figur paling kontroversial di Asia Tenggara. Ia memerintah dengan gaya otoriter dan meninggalkan warisan korupsi yang masif, sebelum akhirnya diasingkan.
Nah, kalau kita mundur lebih jauh lagi, tepatnya ke tahun 1922, ada peristiwa pembentukan negara adidaya yang mengubah peta politik global. Pada 30 Desember, Uni Republik Sosialis Soviet atau yang kita kenal sebagai Uni Soviet, secara resmi berdiri.
Negara sosialis yang beribu kota di Moskwa ini kemudian tumbuh menjadi kekuatan superpower dengan sistem satu partai di bawah kendali Partai Komunis. Pemerintahannya sangat terpusat, ekonominya terencana, dan wilayahnya membentang luas di Eurasia. Uni Soviet bertahan hampir tujuh dekade sebelum akhirnya bubar pada 1991.
Jadi, dari Jakarta hingga Moskwa, dari Baghdad hingga Manila, tanggal 30 Desember menyimpan memoar yang beragam. Ada duka, ada akhir kekuasaan, dan ada juga awal dari sebuah babak baru sejarah. Semuanya tertoreh dalam kalender yang sama.
Artikel Terkait
Sidang Isbat Kemenag Tetapkan Awal Ramadhan 1447 H Malam Ini
Bupati Bone Turun ke Pasar Pantau Harga Pokok Jelang Ramadhan
44 Warga Binaan Konghucu Terima Remisi Khusus Sambut Imlek 2026
17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan