Nama Siklon Tropis Seroja resmi dipensiunkan. Begitu pengumuman yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Artinya, nama itu tak akan pernah dipakai lagi untuk menamai siklon di kemudian hari.
Keputusan ini, menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, diambil bukan tanpa alasan. Dampak kerusakan yang ditinggalkan Seroja terbilang sangat besar, sehingga namanya layak untuk "dimuseumkan".
“Siklon Seroja tahun 2021 di NTT itu kategori 2. Sehingga namanya sekarang dipensiunkan, tidak kita namakan lagi siklon dengan nama Seroja karena efeknya yang sangat merusak,”
ujarnya dalam sebuah konferensi pers virtual, Senin lalu.
Memang, ada aturan tak tertulis dalam penamaan siklon. Biasanya, nama-nama itu diambil dari daftar yang sudah disiapkan untuk Indonesia, biasa memakai nama bunga atau buah. Tapi, ada syarat penting: bila sebuah siklon menimbulkan kerusakan parah dan trauma mendalam, namanya akan dihapus dari daftar. Ini semata-mata untuk menghormati para penyintas dan menjadi catatan sejarah yang kelam.
Sebagai contoh, sebelum Seroja, ada Siklon Tropis Bakung yang muncul beberapa waktu lalu. Namanya masih dipakai karena dampaknya tak sehebat Seroja.
Hanya Lima dalam Kurun Setengah Abad
Faisal lalu memberikan perspektif yang menarik. Ternyata, dalam kurun 55 tahun terakhir, wilayah Indonesia hanya dilintasi atau didekati oleh lima siklon tropis saja. Jumlah yang relatif sedikit.
“Ini di Indonesia hanya kategori 1, kecuali yang Siklon Seroja masuk dalam kategori 2. Adapun maksimal kekuatan siklon sendiri yang terbesar dan paling merusak adalah kategori 5,”
jelasnya lebih lanjut.
Lima siklon itu adalah Vamei (Aceh, 2001), lalu Cempaka dan Dahlia yang muncul berurutan di selatan Jawa pada 2017. Kemudian, yang paling diingat adalah Seroja di NTT tahun 2021. Terakhir, ada Siklon Senyar yang diprediksi muncul pada 2025.
Nah, soal Seroja, angka kerusakannya sungguh mencengangkan. Siklon ini memicu cuaca ekstrem hebat, yang kemudian menyumbang terjadinya serangkaian bencana hidrometeorologi. Korban jiwa mencapai 181 orang meninggal dengan 47 lainnya hilang. Tak kurang dari 4.000 rumah hancur atau rusak diterjang banjir dan angin kencang.
Mengapa Indonesia 'Dilindungi'?
Lantas, mengapa siklon jarang terjadi di sini? Faisal menegaskan, posisi geografis Indonesia di sekitar garis khatulistiwa menjadi faktor kuncinya. Wilayah kita sebenarnya bukan daerah rawan siklon tropis.
“Indonesia itu sesungguhnya bukan daerah yang rawan terhadap siklon tropis ya karena berada di daerah khatulistiwa. Akibat perputaran bumi, ada efek Coriolis yang membuat siklon itu akan berbelok dan melemah ketika memasuki daerah khatulistiwa,”
tuturnya.
Jadi, sederhananya, gaya Coriolis dari rotasi bumi itu bertindak seperti 'penjaga' alami. Ia membuat siklon yang mendekat cenderung berbelok arah dan kehilangan kekuatannya sebelum benar-benar memasuki wilayah ekuator. Itulah sebabnya kejadian siklon di Indonesia terbilang langka, meski ketika muncul seperti Seroja dampaknya bisa sangat luar biasa.
Artikel Terkait
Makassar Siap Jadi Tuan Rumah Sidang Pleno HIPMI 2026, Diikuti 3.000 Peserta
Menko Polhukam Apresiasi Respons Cepat TNI-Polri Tangani Penembakan Pilot di Papua
Atap Stadion Pakansari Rusak Berat Diterjang Angin Kencang di Bogor
Kemenangan Ratchaburi atas Persib Dinodai Komentar Rasis ke Bek Gabriel Mutombo