Rekaman CCTV dari sebuah swalayan di Makassar itu bikin geram. Tampak seorang pria, yang belakangan diketahui bernama Amal Said alias AS, sedang membayar belanjaan di kasir. Tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas bagi yang melihat rekaman, pria itu meludah ke arah kasir. Ludahnya mengenai pipi perempuan muda itu.
Yang membuat hati miris, sang kasir dengan wajah yang tentu saja terluka tetap berusaha menyelesaikan transaksi. Ia melayani pria yang meludahinya itu sampai selesai.
Peristiwa memalukan ini langsung menyebar di media sosial. Amal Said ternyata bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang dosen di Universitas Islam Makassar (UIM), sekaligus berstatus ASN. Dari informasi yang beredar, aksi tak terpuji ini diduga karena dia kesal ditegur lantaran menyelak antrean. Meski begitu, dari pihak AS ada pembelaan lain. Dia mengaku tidak menyelak, hanya berpindah ke meja kasir yang lain.
Laporan ke Polisi dan Sanksi Kampus
Korban, seorang kasir berinisial NI (21 tahun), tak tinggal diam. Dia melaporkan peristiwa penghinaan itu ke Polsek Tamalanrea. AKP Sangkala dari Kanit Reskrim membenarkan laporan tersebut.
"Korban sudah melapor dan dimintai keterangan," kata Sangkala, Senin (29/12).
Menurutnya, proses pemeriksaan masih berjalan. Polisi menjerat kasus ini dengan Pasal 315 KUHP tentang penghinaan ringan.
Di sisi lain, kampus tempat Amal Said mengabdi juga bergerak cepat. UIM langsung menggelar sidang Komisi Disiplin dan Etik. Hasilnya jelas: perilaku dosen itu dinilai melenceng jauh dari nilai akhlak dan kemanusiaan.
Muammar, perwakilan kampus, menjelaskan bahwa AS adalah dosen yang diperbantukan dari LLDIKTI dan sudah mengabdi hampir dua dekade di UIM. Bahkan, dia pernah dapat penghargaan dari Presiden. Tapi semua catatan baik itu seakan terhapus oleh satu tindakan di Rabu (24/12) itu.
"Apa pun alasannya, tindakan tersebut jauh dari nilai-nilai akhlak, sangat tidak etis, dan melanggar kode etik dosen serta peraturan kampus," tegas Muammar.
Konsekuensinya berat. Amal Said dipecat dari posisinya sebagai dosen UIM. Pihak kampus pun tak sungkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
"Atas nama UIM, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada korban. Perbuatan ini jelas bertentangan dengan segala nilai yang kami junjung tinggi di lingkungan universitas," ucapnya.
Kasus ini jadi pelajaran pahit. Betapa satu momen kelalaian sikap, direkam dan tersebar, bisa menghancurkan reputasi yang dibangun puluhan tahun. Di balik status dan jabatan, etika dasar tetaplah yang utama.
Artikel Terkait
Tokoh Sepuh NU Kiai Manarul Hidayat Restui Gus Hery Maju Calon Ketua Umum PBNU
Menteri Pertanian Puji Kualitas Bibit Kelapa dan Kakao di Konawe Selatan, Targetkan 3 Juta Lapangan Kerja Baru
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp18.096 per Dolar AS, Daya Beli di Dalam Negeri Tak Sebanding dengan Beban Utang Luar Negeri
BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Stabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Dolar AS