Membangun hubungan yang baik dengan sesama itu gampang-gampang susah. Setiap hari, kita pasti berhadapan dengan situasi yang menuntut kepercayaan dan keselarasan. Nah, kunci utamanya sebenarnya ada pada tiga hal: amanah, saling percaya, dan saling memahami.
Mari kita bahas yang pertama, amanah. Dalam Islam, konsep ini punya tempat yang sangat istimewa. Ia menjadi fondasi dari segala bentuk kepercayaan. Bayangkan saja, Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk menunaikan amanah, seperti dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58).
Intinya, ketika seseorang memberikan kepercayaan kepada kita entah itu rahasia, tugas, atau barang berharga kita punya tanggung jawab besar untuk menjaganya. Jadi, menjadi pribadi yang bisa diandalkan dan bertanggung jawab itu bukan sekadar pilihan, tapi sebuah keharusan.
Lalu, ada soal saling percaya. Hubungan apa pun, baik di rumah, kantor, atau masyarakat, akan goyah tanpa pondasi ini. Dengan kepercayaan, kerja sama jadi lebih lancar dan suasana pun harmonis. Rasulullah Saw pernah mengingatkan betapa sentralnya hal ini dalam sabdanya:
“Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki kepercayaan” (HR. Ahmad).
Terlihat kan, betapa amanah dan kepercayaan itu saling berkait erat?
Namun begitu, punya pondasi saja belum cukup. Diperlukan jembatan untuk menyambungkannya, yaitu saling memahami. Inilah yang sering kali meredam gesekan. Dengan berusaha mengerti sudut pandang dan perasaan orang lain, banyak konflik yang sebenarnya bisa dihindari. Allah SWT pun mengarahkan kita untuk ini, “Dan janganlah kamu bergantungan dengan orang lain, dan berusahalah untuk memahami mereka” (QS. Al-Hujurat: 6).
Kalau ketiga sikap ini betul-betul kita jalani, dampaknya akan terasa luas. Bukan cuma di lingkup keluarga, tapi juga dalam organisasi, bahkan hingga kehidupan berbangsa. Hasilnya? Kehidupan yang lebih harmonis, maju, dan tentu saja, sejahtera untuk semua.
Imam Nur Suharno, Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat.
Artikel Terkait
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU
Sidang Praperadilan Kasus Pembunuhan Anak Politisi PKS, Kuasa Hukum dan Polisi Adu Bukti