Di tengah dunia yang menuntut kelincahan dan hasil instan, kejujuran sering dianggap kuno. Orang jujur dibilang kaku, nggak bisa survive. Padahal, coba pikir lagi. Hidup yang jujur justru lebih ringan. Nggak perlu ribet menyusun alibi, nggak perlu takut ketahuan. Ia membebaskan. Jalannya mungkin nggak mulus, tapi pasti lebih tentram.
NgopiPagi itu momen jujur kita. Saat kita nggak lagi berpose, nggak cari penilaian orang. Cuma diri sendiri yang hadir. Di saat seperti inilah pesan Hatta harusnya nggak cuma jadi kutipan bagus, tapi pengingat yang menusuk: sebuah bangsa, atau bahkan hidup seseorang, jarang runtuh karena kebodohan. Keruntuhan lebih sering datang karena kejujuran yang tergerus.
Mendidik orang yang belum tahu itu butuh kesabaran. Tapi meluruskan orang yang tidak jujur? Itu butuh keberanian ekstra dan sering kali, usaha itu sia-sia karena dia sendiri nggak mau berubah. Maka tugas kita bukan cuma mencari orang-orang pintar, tapi juga memastikan kepintaran itu tidak membunuh nurani. Sebab, ketika kejujuran hilang, kecerdasan berubah jadi senjata.
Kopi di cangkir sudah hampir habis. Pagi pun bergerak. Sebelum kita kembali ke hiruk-pikuk, ada satu pertanyaan yang layak dibawa: Hari ini, kita mau jadi pintar yang jujur, atau pintar yang licik? Bung Hatta sudah menjawabnya dengan hidupnya. Tinggal kita, mau dengar atau tidak.
Yuk, saya ngopipagi dulu. Ini ada kopi Puntang tumbuh di Gunung Puntang, aromanya nakal, rasanya juara. Nikmatnya bikin mata meremang. Seperti hidup yang jujur, rasanya kuat dan meninggalkan bekas yang dalam. Tabik.
(aendra medita)
") serial tulisan ini akan jadi kumpulan buku Ngopi yang akan segera diterbitkan tahun 2026.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Cuaca Ekstrem di Awal Masuk Sekolah
Komisi III DPR Kritik Penanganan Kasus Korupsi Videografer Rp30 Juta
Prabowo Blusukan ke Bantaran Rel Senen, Mengingatkan Tradisi Penyamaran Soekarno
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor