Habib Rizieq Sindir Pemerintah: Kalau Ngutang Boleh Malu, Tetapkan Bencana Nasional Jangan Malu!

- Jumat, 26 Desember 2025 | 21:00 WIB
Habib Rizieq Sindir Pemerintah: Kalau Ngutang Boleh Malu, Tetapkan Bencana Nasional Jangan Malu!

Pemerintah pusat masih bersikukuh. Bencana yang melanda Sumatra belum juga ditetapkan sebagai Bencana Nasional, dan sikap itu menuai reaksi. Salah satunya datang dari Habib Rizieq Shihab.

Dalam sebuah pernyataan yang beredar, tokoh yang akrab disapa HRS itu menyampaikan tanggapannya. Nada suaranya tegas, terdengar seperti perpaduan antara harapan dan kekecewaan.

"Nggak apa-apa," ujarnya, mengawali komentarnya. "Nggak jadi bencana nasional, nggak apa-apa. Syaratnya cuma satu: kalau betul-betul pemerintah kita sanggup, mampu, dan benar-benar kerja ke bawah! Silahkan."

Namun begitu, nada bicaranya segera berubah. Kekhawatirannya terasa nyata, terutama soal informasi yang sampai ke pucuk pimpinan.

"Tapi kalau cuma lapor yang enak-enak aja sama presiden, bahkan presiden dibohongin. Presiden percaya begitu saja."

Ia kemudian menyentuh kondisi di lapangan yang menurutnya masih memprihatinkan. Suaranya meninggi, menekankan fakta yang tak boleh diabaikan.

"Sementara masih banyak mayat yang belum ditemukan sampai saat ini, saudara!"

Di akhir pernyataannya, HRS kembali menegaskan poin utamanya. Menetapkan status bencana, baginya, adalah langkah strategis, bukan aib.

"Jadi sekali lagi, menetapkan Bencana Nasional nggak usah malu."

Lalu, dengan penekanan yang kuat, ia menambahkan, "Kalau ngutang boleh malu!"

Pernyataan ini langsung memantik perbincangan hangat di media sosial. Sebuah cuplikan video yang memuat pernyataan lengkapnya pun ramai dibagikan.

Di Twitter, salah satu akun menyebarkan video tersebut dengan caption yang bernada dukungan. "HRS dari dulu istiqamah kaya gini," tulis seorang netizen. "Kalo sekarang kalian ngerasa beliau benar dan lebih waras, itu karena dulu kalian masih kesirep sama narasi-narasi yang dibangun buzzer-nya."

Komentar-komentar seperti itu menunjukkan bagaimana pernyataan HRS bukan sekadar kritik, tapi juga menyentuh memori politik sebagian publik. Isu bencana ini, di sisi lain, semakin menyoroti celah antara narasi resmi dan realitas pahit yang dialami korban.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar