UAS Buka Suara di Aceh: Tujuh Lapis Makna di Balik Musibah Tsunami

- Jumat, 26 Desember 2025 | 17:00 WIB
UAS Buka Suara di Aceh: Tujuh Lapis Makna di Balik Musibah Tsunami

Di kanal YouTube-nya, Ustaz Abdul Somad (UAS) membagikan sebuah ceramah yang ia sampaikan di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Momen itu bertepatan dengan peringatan 21 tahun tsunami Aceh yang memilukan. Dalam video yang diunggah Jumat lalu, sang ustaz mengupas tuntas tujuh sudut pandang soal sebab-sebab musibah. Ia tak hanya bicara soal takdir, tapi juga menyentil hal-hal yang lebih manusiawi.

“Segala musibah yang terjadi di bumi ini, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang… semua sudah tertulis di kitab, di Lauhil Mahfuz,” ujarnya di awal.

Ini, menurutnya, adalah bagian dari rukun iman. Takdir ada yang bisa kita pilih, ada yang tidak. Tsunami jelas bukan pilihan siapa-siapa.

Tapi tunggu dulu. UAS lalu bilang, ini baru poin pertama. “Ini baru satu. Tujuh yang mau ku sampaikan ini,” katanya, seolah mengantisipasi pendengar yang buru-buru mengambil kesimpulan.

Pandangannya kemudian bergeser. Poin kedua ia ambil dari Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 41, yang intinya kerusakan di darat dan laut itu ulah tangan manusia juga. Di sini, nada ceramahnya mulai kritis. Ia menyoroti penggundulan hutan dengan bahasa yang gamblang. “Pohon yang akar tunggal… akarnya copot lapuk sehingga tanah tidak bisa ditahan, air pun turun ke bawah. Pelajaran kelas 4 SD,” sindirnya pedas.

Tak berhenti di situ, ia menyentil para pemegang kebijakan. “Tangan saya enggak pernah motong, tapi tanda tangan sudah meluluhlantakkan,” ucap UAS, disambut tepuk tangan riuh jemaah.

Lalu, ada poin ketiga tentang amar ma’ruf nahi mungkar. Diamnya masyarakat dan aparat terhadap kemungkaran, tegasnya, bisa mendatangkan hukuman dari Allah. Peran penegak hukum ia anggap vital. “Polisi, TNI cukup dengan pistolnya… pakai untuk amar makruf nahi mungkar,” serunya, diiringi takbir yang menggema.

Namun begitu, musibah juga punya sisi lain yang lebih personal. Di poin keempat, UAS menyebutnya sebagai penyucian. Bisa jadi, katanya, ini cara Allah menghapus dosa-dosa orang beriman. “Mudah-mudahan yang meninggal bersih dalam keadaan tak ada dosanya sama sekali,” doanya dengan khidmat.

Di sisi lain, musibah adalah ujian itulah poin kelima. Tapi sekaligus momentum untuk solidaritas. UAS bercerita soal upayanya bersama yayasan mengirim bantuan rendang dan beras untuk korban banjir bandang di Aceh. Ada sisi aksi nyata di balik renungan.

Nah, yang keenam ini agak unik. Berdasarkan obrolannya dengan sejumlah pejabat daerah, UAS menemukan sebuah ironi. “Rupanya bupati-bupati walikota ini selalu datang ke gubernur minta APBD… Begitu musibah ini datang, cairlah duit,” ujarnya, menyoroti bagaimana bencana justru membuka keran anggaran. Lalu ia menambahkan dengan canda khasnya, “Tapi kalau bisa janganlah kalian berdoa lagi.”

Terakhir, poin ketujuh menekankan kesabaran. Menerima takdir dengan ridha, itu amal yang mulia. UAS memuji ketabahan orang Aceh yang telah ditempa sejarah. “Menurut hadis ini, kekuatan iman itu diuji… yang paling kuat imannya adalah orang Aceh,” pungkasnya. Gemuruh “setuju” langsung memenuhi ruangan.

Ceramah yang padat itu disampaikan dengan gaya khas UAS: penuh analogi, selingan canda, dan kritik sosial yang tajam. Hadir di sana Wakil Gubernur Aceh, Wali Kota Banda Aceh, dan ribuan jemaah yang memadati Masjid Baiturrahman. Suasana saat itu terasa hangat, antara renungan dan gelak tawa, mengingat sebuah bencana besar sambil melihat ke depan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar