Wall Street kembali menunjukkan taringnya. Setelah sempat limbung pekan lalu, bursa saham AS ditutup menguat pada Senin (10/2/2026). Pemulihan di sektor teknologi, yang sebelumnya babak belur, jadi penyelamat utama. Reli ini bahkan sukses mengantar Dow Jones menembus level psikologis 50.000 poin untuk pertama kalinya. Sebuah pencapaian bersejarah.
Sepanjang hari, Dow Jones memang sempat fluktuatif. Tapi secara umum, indeks itu bertahan di atas angka 50.000 dan akhirnya ditutup hampir datar di 50.135,87. Sementara itu, S&P 500 naik 0,4 persen ke 6.961,23. Yang paling menarik adalah NASDAQ Composite, indeks yang dipenuhi saham teknologi. Dia melesat 0,9 persen ke level 23.238,67.
Lonjakan ini sebenarnya sudah dimulai Jumat lalu, menandai pemulihan tajam dari penurunan di awal pekan. Momentum itu berlanjut ke Senin, mendorong Dow ke rekor baru sementara S&P dan Nasdaq masing-masing sudah naik sekitar 2 persen dalam beberapa hari terakhir.
Menurut sejumlah analis, pergerakan ini adalah soal penyesuaian posisi. Peter Corey, kepala strategi pasar di Pave Finance, punya penjelasannya.
“Penurunan harga dari Selasa hingga Kamis itu membersihkan banyak posisi beli jangka pendek,” ujarnya kepada Investing. “Nah, pemulihan di hari Jumat malah memaksa mereka yang jual di periode itu untuk menutup posisi. Akibatnya, pelaku pasar jangka pendek, baik yang beli maupun jual, harus menata ulang strategi.”
Corey menambahkan, reli Jumat juga dapat suntikan dari strategi penargetan volatilitas. Dana-dana semacam ini mengurangi eksposur saat indeks ketakutan (VIX) melonjak di awal pekan, lalu menambahnya kembali ketika volatilitas mereda.
“Dengan VIX yang masih dalam kisaran Jumat, pembelian tambahan dari pemain besar mungkin akan lebih hati-hati sekarang. Tapi, kalau VIX terus turun, harga saham masih punya peluang naik karena dana-dana ini kemungkinan akan beli lagi,” tambahnya.
Pemulihan akhir pekan itu tak lepas dari bangkitnya saham-saham chip dan AI. Sektor ini sebelumnya dihajar habis-habisan karena dua hal: kekhawatiran akan gangguan teknologi dan anggapan valuasinya sudah kemahalan. Investor sempat ramai-ramai kabur dari saham pertumbuhan tinggi, khawatir kemajuan AI justru menggerus model bisnis dan margin keuntungan perusahaan perangkat lunak yang sudah mapan.
Artikel Terkait
Pemerintah Kurangi Hari Operasional Program Makan Bergizi Gratis demi Efisiensi
Laba Bersih CSRA Melonjak 27,7% Didorong Kenaikan Harga CPO
Saham Bakrie Melawan Arus, ENRG dan DEWA Catat Kenaikan Signifikan
BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham Multipolar Technology Usai Anjlok 76%