Harga minyak dunia kembali merangkak naik, menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Senin kemarin. Pemicunya? Imbauan resmi dari Departemen Transportasi Amerika Serikat yang meminta kapal-kapal berbenderanya untuk menjauh dari perairan Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Langkah ini jelas bukan tanpa alasan.
Menurut catatan otoritas maritim AS, kapal-kapal yang melintasi wilayah itu punya riwayat panjang menghadapi risiko penyitaan oleh pasukan Iran. Insiden terbaru terjadi awal bulan ini, tepatnya tanggal 3 Februari. Makanya, imbauannya cukup spesifik: untuk kapal yang berlayar ke arah timur di Selat Hormuz, disarankan tetap berada dekat perairan Oman. Sebuah langkah defensif yang langsung menggugah pasar.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent akhirnya ditutup naik 1,5 persen ke level USD69,04 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 1,3 persen, mengakhiri hari di angka USD64,36 per barel.
Kekhawatiran utamanya sederhana: ketegangan AS-Iran ini bisa berujung pada gangguan pasokan. Dan itu bukan ancaman sepele. Coba bayangkan, sekitar seperlima konsumsi minyak global harus melewati selat sempit antara Oman dan Iran itu. Gangguan sedikit saja, dampaknya akan terasa di seluruh dunia.
“Perdagangan minyak mentah pekan ini, dan mungkin hingga akhir bulan, tidak banyak ditentukan oleh fundamental minyak, melainkan oleh masuk dan keluarnya premi risiko terkait Iran,”
Begitu penilaian Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates, seperti dikutip Reuters. Analisisnya cukup jitu, menggambarkan suasana pasar yang digerakkan oleh geopolitik, bukan sekadar permintaan dan penawaran.
Padahal, sebelumnya sempat ada angin tenang. Harga minyak sempat melemah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan perundingan tidak langsung. Pembicaraan itu bahkan disebut-sebut berlangsung positif. Namun suasana itu langsung berubah ketika Menteri Luar Negeri Iran, pada Sabtu lalu, menyatakan negaranya siap menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang lebih dulu. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan.
“Situasinya sangat sulit dinilai ke mana arahnya. Kami memantau hari demi hari, kini menunggu penetapan tanggal untuk putaran kedua perundingan,”
Ujar Giovanni Staunovo, analis minyak di UBS. Keraguannya mewakili banyak pelaku pasar yang sedang menebak-nebak langkah kedua negara.
Di tengah fokus pada Iran, ada faktor lain yang juga diamati investor: upaya Barat membatasi pendapatan minyak Rusia. Komisi Eropa baru-baru ini mengusulkan larangan luas terhadap berbagai layanan pendukung ekspor minyak mentah Rusia via laut. Efeknya mulai terasa. India, yang sebelumnya jadi pembeli terbesar minyak Rusia, dilaporkan mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April.
“Jika India sepenuhnya menghentikan pembelian minyak Rusia, hal tersebut akan menjadi perkembangan bullish yang berkelanjutan,”
Kata seorang analis dari Sparta Commodities. Artinya, tekanan pasokan bisa datang dari lebih dari satu titik.
Namun begitu, ada juga kabar yang sedikit meredakan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz di Kazakhstan, yang dioperasikan konsorsium pimpinan Chevron, mulai pulih. Sudah mencapai sekitar 60 persen dari kapasitas puncak dan menargetkan kembali normal pada 23 Februari mendatang.
Sementara itu, untuk pasar AS sendiri, prediksi awal Reuters menunjukkan pergerakan stok yang beragam. Persediaan minyak mentar diperkirakan naik pekan lalu, tapi stok bensin dan distilat justru diperkirakan turun. Sebuah dinamika lokal yang tetap akan mempengaruhi sentimen.
Jadi, pasar minyak sekali lagi terjebak dalam tarik ulur antara risiko geopolitik yang memanas dan sinyal-sinyal fundamental yang beragam. Menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Tehran.
Artikel Terkait
Dow Jones Tembus 50.000 Poin untuk Pertama Kali, Didorong Pemulihan Sektor Teknologi
Jasa Marga Targetkan 700 Gerbang Tol Nirhenti Beroperasi pada 2026
BTN Siap Bagikan Dividen Lagi Usai Laba 2025 Tembus Rp3,5 Triliun
Industri Baja Nasional Bersiap Hadapi Beban CBAM Uni Eropa 2026