Korban bencana di Sumatra sudah lebih dari seribu jiwa. Dampaknya, kata banyak orang, bahkan lebih mengerikan dibanding tsunami delapan belas tahun silam. Tapi pemerintah masih enggan menetapkannya sebagai Bencana Nasional. Respons yang dinilai lamban ini memantik kekecewaan yang luas.
Di sisi lain, perhatian publik justru tersedot ke hal yang sama sekali berbeda: seekor kucing. Ya, kucing kesayangan Presiden Prabowo Subianto, Bobby Kertanegara. Perlakuan super ekstra terhadap si kucing istana itu kini jadi bahan cibiran netizen, yang membandingkannya dengan nasib korban bencana.
Sebuah video yang beredar luas di media sosial menyoroti hal itu. Dalam unggahan tersebut, terlihat Bobby dikawal dengan sangat ketat dalam suatu acara publik. Caption yang menyertainya menusuk:
1000 lebih nyawa rakyat hanya angka, koar-koar sekebon rela mati demi rakyat.
1 ekor kucing kawalan kayak raja, standar keamanan protokoler negara, negara wajib melindungi.
Kontrasnya memang mencolok. Bobby, kucing peliharaan Prabowo yang ikut menempati Istana Merdeka sejak 2025, sering muncul dengan pengawalan khusus. Netizen sampai menjuluki pengawalnya "PasPamCing" atau Pasukan Pengaman Kucing. Sebuah sindiran yang tak bisa dipungkiri cukup kreatif, meski muatannya getir.
Reaksi warganet pun beragam. Ada yang merasa jijik dengan perlakuan berlebihan itu.
"Gue jg pecinta kucing, tp gue jijik bgt liat perlakuan spesial dan lebay kayak gt ke kucing dia," tulis salah satu akun.
Komentar lain lebih keras, menyentil soal kepemimpinan.
"Negara besar di kasih presiden badut dan dgn piaraannya membuat semua jadi badutt.. Lengkap sudah kemalangan negara ini, mau sampai kapan hal sprti ini berlanjut.. Wakil presiden ngang ngong menteri nya kumpulan org2 tolol.. Ironi Republik ini,"
Polemik ini seperti dua sisi mata uang yang sama. Di satu sisi, duka dan nestapa yang masih menyelimuti Sumatra. Di sisi lain, sorotan pada kehidupan "kerajaan" hewan peliharaan di istana. Masyarakat seolah diajak melihat dua realitas yang berjalan beriringan, namun sama sekali berbeda nadanya. Dan di tengah semua itu, pertanyaan tentang prioritas dan empati terus bergema, lebih nyaring dari sekadar deringan notifikasi di linimasa.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Sukabumi, Dirasakan di Piru
Menag Umar Sampaikan Ucapan dan Harapan Damai di Tahun Baru Imlek 2577
BEI Libur Dua Hari, Investor Disarankan Manfaatkan Waktu untuk Evaluasi Portofolio
Mobil Hangus Terbakar di Tol Surabaya-Gresik Diduga Akibat Korsleting