Malam Tahun Baru Tanpa Gemerlap, Ancol hingga TMII Ganti Kembang Api dengan Doa dan Solidaritas

- Jumat, 26 Desember 2025 | 13:06 WIB
Malam Tahun Baru Tanpa Gemerlap, Ancol hingga TMII Ganti Kembang Api dengan Doa dan Solidaritas

Gemerlap kembang api tak akan menyala di langit Ancol Taman Impian tahun ini. Pengelola memutuskan untuk meniadakan pertunjukan spektakuler itu di malam pergantian tahun. Alasannya sederhana: solidaritas. Mereka ingin mengedepankan rasa kebersamaan, mengingat saudara-saudara di Sumatera yang sedang berjuang menghadapi bencana banjir dan longsor.

Sebagai gantinya, yang akan digelar adalah doa bersama dan Konser Peduli Sumatera di kawasan Pantai Carnaval dan Pantai Festival. Ancol tidak sendirian. TMII pun mengambil langkah serupa. Di sana, pesta cahaya diganti dengan rangkaian kegiatan yang lebih reflektif. Mulai dari doa bersama dengan seribu lilin hingga penggalangan dana untuk korban bencana.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya sudah lebih dulu mengimbau warga Jakarta. Masyarakat diajak untuk tidak menggelar pesta kembang api atau petasan saat malam tahun baru. Ini bentuk empati, kata mereka, sekaligus sejalan dengan kebijakan Pemprov DKI.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bhudi Hermanto, menyebut sejumlah mal dan hotel ternama di ibu kota sudah membatalkan rencananya. "Rasa keprihatinan bersama perlu kita kedepankan," ujarnya, mengingat bencana yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Polda mengajak semua pihak merayakan tahun baru dengan cara yang lebih sederhana dan penuh empati. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga sudah memastikan akan menerbitkan surat edaran larangan. Aturan itu nantinya berlaku untuk semua perayaan, baik yang digelar pemerintah maupun swasta, khususnya acara-acara yang memerlukan perizinan.

Namun begitu, sikap pemerintah daerah ternyata tidak seragam. Pemda DIY, misalnya, memilih untuk tidak melarang secara resmi penyalakan kembang api. Tapi warga tetap diimbau untuk merayakannya dengan bijak.

Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti menegaskan, tidak ada surat edaran larangan karena memang tak punya dasar hukum dan sanksi yang jelas. Meski begitu, harapannya masyarakat bisa menahan diri. "Tidak menggelar pesta besar, lebih mengutamakan solidaritas sosial," katanya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardowo, juga hanya mengimbau. Dia minta warga tidak boros dan lebih memilih membantu korban bencana ketimbang membeli kembang api. Sementara itu, di Semarang, Pemkot memastikan tak akan ada pesta kembang api. Mereka akan menggelar doa lintas agama dan kegiatan sosial sebagai bentuk refleksi.

Lain lagi di Jawa Timur. Perayaan akan diisi dengan selawat dan doa bersama untuk korban musibah. Acara rencananya digelar pada tanggal 30 Desember malam di Islamic Center Surabaya. Sekda Adhy Karyono menjelaskan, ini adalah cara mereka menyambut 2026.

Gubernur Sumsel, Herman Deru, punya pandangan serupa. Dia mengajak warga menjadikan tahun baru sebagai momen refleksi dan kepedulian sosial. "Doa bersama dan zikir tidak mengurangi makna kebersamaan," ujarnya. Justru, kata dia, hal itu bisa memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.

Dukungan juga datang dari pimpinan tertinggi kepolisian. Kapolri Jenderal Listyo Sigit menyatakan pengawasan kembang api akan menjadi kewenangan Polda. Namun, dia menegaskan sikap Mabes Polri jelas: melarang perayaan tahun baru dengan kembang api.

Jadi, suasana malam tahun baru kali ini dipastikan akan berbeda. Lebih hening, mungkin. Tapi di balik itu, ada harapan untuk kebersamaan yang lebih dalam, mengingat mereka yang sedang berduka.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar