Natal dalam Bayang Duka dan Harapan: Dari Aceh hingga Bethlehem

- Jumat, 26 Desember 2025 | 09:48 WIB
Natal dalam Bayang Duka dan Harapan: Dari Aceh hingga Bethlehem

Suasana Natal tahun ini di Indonesia memang berbeda. Di balik sukacita dan lantunan kidung, ada duka yang masih membekas dari bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lain. Tapi justru di situlah pesan solidaritas menemukan bentuknya yang paling nyata.

Dalam video ucapan Natalnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti hal itu. Hati kita semua, katanya, tentu tertuju pada saudara-saudara kita yang terdampak musibah.

“Di tengah perayaan Natal tahun ini, hati kita juga tertuju kepada saudara-saudara kita yang tengah menghadapi akibat bencana di sejumlah tempat di tanah air,” ujar Prabowo, Kamis (25/12).

Ia pun mendoakan agar mereka yang terkena musibah diberi kekuatan dan perlindungan. Lebih dari sekadar doa, Prabowo menekankan bahwa momen Natal ini harus jadi pengingat untuk memperkuat persatuan dan gotong royong.

“Kita harus bersatu, bekerja sama, dan mengatasi segala perbedaan demi kepentingan rakyat yang kita cintai,” tegasnya.

Ajakan untuk bergotong royong membantu korban bencana pun disampaikannya. Ucapan selamat Natal ia sampaikan dengan harapan damai dan kasih menyertai seluruh rakyat.

Khidmatnya Misa di Katedral

Sementara di Gereja Katedral Jakarta, ibadah misa pontifikal berlangsung khidmat. Kursi-kursi di dalam penuh sesak, tak tersisa. Bahkan di halaman gereja, jemaat memadati tempat yang disediakan, mengikuti rangkaian liturgi dengan khusyuk.

Misa dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo. Tema yang diangkat tahun ini cukup dalam: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, diambil dari Injil Markus.

Cerita dari Terowongan Silaturahmi

Natal di Katedral juga selalu punya cerita toleransi yang manis. Hubungan harmonis dengan tetangga terdekatnya, Masjid Istiqlal, tampak jelas setiap perayaan besar.

Susyana Suwadie, Humas Keuskupan Agung Jakarta, bercerita. Setiap Natal, lahan parkir Katedral selalu penuh karena perlu mendirikan tenda. Nah, di sinilah Masjid Istiqlal selalu siap membantu dengan meminjamkan basement parkirannya yang luas.

“Jadi dengan dibangunnya parkiran basement dari Masjid Istiqlal yang bisa menampung 700 sampai 800, jadi umat bisa berparkir di sana kemudian bisa terhubung langsung mengarah kepada Terowongan Silaturahmi untuk mencapai Gereja Katedral,” kata Susyana.

Terowongan penghubung yang diresmikan Presiden Prabowo tahun 2024 itu dibuka khusus selama Natal. Di dindingnya, ada karya seni simbolis: dua tangan yang bersalaman, sebuah gambaran sederhana namun kuat tentang kerukunan.

Natal Sederhana di Tengah Reruntuhan

Nuansa Natal yang mengharukan justru terasa di tempat-tempat pengungsian. Seperti di balik dinding Gedung Olahraga Pandan, Tapanuli Tengah. Duka bencana November lalu masih terasa, merenggut nyawa dan rumah.

Tapi semangat untuk merayakan kelahiran Kristus tak padam. Ratusan keluarga yang tinggal di pengungsian itu berkumpul, merayakan Natal bersama dalam kesederhanaan yang khidmat. Tema mereka pas: “Natal di Kandang Domba”.

Sorotan Paus Leo untuk Gaza

Di Vatikan, Paus Leo XIV menyampaikan berkat Natal pertamanya sejak terpilih. Khotbahnya menyentuh, penuh keprihatinan kemanusiaan. Ia mengaitkan kisah kelahiran Yesus di kandang yang rapuh dengan kondisi memilukan di Gaza.

“Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza, yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin?” ujar Leo.

Paus juga menyoroti penderitaan kaum tunawisma dan kehancuran akibat perang di mana-mana. Ia menyayangkan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata, menjadi korban kebohongan pidato-pidato bombastis.

“Rapuh pula pikiran dan kehidupan kaum muda yang dipaksa mengangkat senjata... yang merasakan ketidakmasukakalan dari tuntutan yang dibebankan kepada mereka,” lanjutnya.

Sunyi di Pantai Bondi

Jauh di Sydney, Australia, perayaan Natal di Pantai Bondi terasa sunyi. Itu dampak dari trauma penembakan massal beberapa waktu lalu yang menewaskan 16 orang. Meski ratusan orang masih datang, bahkan dengan topi Santa, suasana tak semeriah biasa. Pengamanan polisi diperketat di sepanjang pantai.

Thomas Hough, Kepala Patroli Penyelamat Pantai, bilang cuaca juga kurang bersahabat. Ombaknya besar. “Tapi orang-orang tetap datang,” ujarnya.

Sukacita yang Kembali di Bethlehem

Namun ada juga kabar baik. Di Bethlehem, Tepi Barat, Natal akhirnya bisa dirayakan lagi secara terbuka setelah lebih dari dua tahun terhalang perang. Ratusan umat memadati Gereja Kelahiran, salah satu situs tersuci bagi umat Kristiani, untuk misa pada Rabu malam (24/12).

Antusiasme terpancar jelas. Warga dan peziarah memenuhi Star Street yang bersejarah dalam pawai Natal, memadati alun-alun kota. Sebuah sukacita yang lama tertunda.

“Hari ini penuh dengan sukacita karena kami tidak bisa merayakannya sebelumnya akibat perang,” kata Milagros Anstas, seorang remaja 17 tahun. Kata-katanya mewakili perasaan banyak orang di sana.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar