Alasannya jelas. Ada serangkaian kecelakaan yang mengkhawatirkan.
Dalam pernyataannya, Uni Europa menyoroti beberapa masalah krusial. Mereka menilai ada kekurangan personel yang memadai dan berkualitas. Proses pengawasan operasi penerbangan serta kelaikan udara dinilai tidak efektif. Yang lebih parah, ada indikasi ketidakpatuhan terhadap standar keselamatan internasional yang berlaku.
Kilas balik ke tahun 2022, memori pilu masih terasa. Sebuah pesawat komersial jatuh ke perairan Danau Victoria dan merenggut 19 nyawa. Lebih jauh lagi, pada 1999, kecelakaan pesawat di utara Tanzania menewaskan 12 orang. Sepuluh di antaranya adalah turis Amerika.
Rentetan peristiwa ini tentu mengundang pertanyaan besar. Dan untuk keluarga korban helikopter di Kilimanjaro, yang tersisa kini hanya duka dan tanda tanya yang mendalam.
Artikel Terkait
Elkan Baggott dan Timnas Indonesia Siap Tampil Beda di Era Baru John Herdman
PSM Makassar Gelar Latihan Perdana Usai Libur, Lima Pemain dan Pelatih Trucha Absen
Brigjen TNI (Mar) Briand Iwan Prang Diangkat sebagai Dosen Tetap Universitas Pertahanan
Program Makan Bergizi Gratis Diwarnai Ribuan Pelanggaran, 1.030 Dapur Ditangguhkan