Dua Kalimat di Kolong Jembatan Bandung yang Bikin Wisatawan Berhenti dan Berfoto

- Kamis, 25 Desember 2025 | 20:36 WIB
Dua Kalimat di Kolong Jembatan Bandung yang Bikin Wisatawan Berhenti dan Berfoto

Suasana malam di kawasan Asia Afrika, Bandung, masih ramai. Meski jam sudah menunjukkan larut, langkah para wisatawan tak juga berkurang. Mereka berduyun-duyun menuju satu titik di bawah kolong jalan layang.

Di sana, di atas dinding beton putih yang polos, terpampang dua kalimat sederhana. Justru kesederhanaan itulah yang membuat banyak orang menepi, berhenti, dan mengeluarkan ponsel mereka. Dua kutipan itu seolah menyapa setiap pelintas yang lewat.

Yang satu adalah buah pikiran budayawan Martinus Antonius Weselinus Brouwer.

Sementara di seberangnya, ada kalimat lain yang menjadi pasangannya.

“Kalimatnya dalem banget,” ujar Nisa, seorang wisatawan asal Bekasi yang sengaja datang ke lokasi itu Kamis lalu (25/12).

“Bandung itu selalu punya cerita buat aku, jadi pas liat tulisan itu pengen aja gitu buat foto di situ,” tambahnya.

Deretan orang terlihat antri, menunggu giliran untuk berfoto. Ada yang swafoto sendiri, ada juga yang dibantu teman. Semua itu terjadi di tengah keriuhan lalu lintas yang padat, dengan kendaraan yang terus lalu-lalang tak henti.

Iky, yang datang dari Bandung Barat, merasakan hal serupa. Menurutnya, tempat ini menawarkan nuansa yang berbeda. “Tulisannya unik, sederhana tapi ikonik,” katanya.

“Tulisan di tembok, lampu malam, sama suasana ramai bikin fotonya kerasa Bandung banget.”

Meski lokasinya berada di area yang sibuk, antusiasme pengunjung tak surut. Beberapa petugas terlihat berjaga, memasang pembatas, memastikan aktivitas berfoto ini tidak sampai mengganggu arus kendaraan yang melintas. Mereka mengatur agar semuanya berjalan lancar.

Pada akhirnya, Bandung memang punya caranya sendiri untuk memikat hati. Daya tariknya tak melulu soal gedung tua yang megah atau pertunjukan spektakuler. Terkadang, hanya dengan coretan kata-kata di dinding, orang rela berhenti sejenak. Mereka mengabadikan momen, dan pulang membawa kenangan sepotong rasa tentang Bandung yang melekat di memori.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar