"Semua biaya operasional di lapangan, saya tanggung sendiri. Tidak ada satu rupiah pun dari uang donasi publik yang dipakai untuk itu," tegas Ferry Irwandi, aktivis kemanusiaan itu. Prinsipnya sederhana tapi tegas: dana sumbangan masyarakat harus utuh sampai ke tangan korban bencana. Untuk urusan logistik, akomodasi, atau konsumsi tim, ia mengandalkan kantong pribadi.
Nah, soal transparansi, Ferry juga tak mau main-main. Ia sudah menyiapkan laporan detail penyaluran dana yang bisa dilihat siapa saja melalui sebuah halaman khusus. Dengan begitu, siapapun bisa mengecek kemana saja uang itu mengalir, lengkap dengan rinciannya.
Hingga pertengahan Desember 2025, angka yang sudah berhasil disalurkan cukup mencengangkan: Rp7,6 miliar lebih. Masih ada lagi dana yang sedang dipersiapkan untuk tahap berikutnya, sekitar Rp2,62 miliar. Sisa sekitar Rp482 juta akan disesuaikan dengan kondisi paling mendesak di lapangan.
Bentuk bantuannya sendiri sangat beragam. Bayangkan, lebih dari 100 ton beras sudah didistribusikan, dengan puluhan ton lagi dalam perjalanan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, tersedia puluhan ribu liter air bersih dan ribuan paket makanan siap santap.
Di sisi lain, dukungan infrastruktur tak kalah penting. Ferry menyediakan puluhan unit Starlink untuk komunikasi, genset bertenaga surya, bahkan alat berat seperti ekskavator untuk membuka akses. Belum lagi barang-barang pendukung seperti selimut, kasur, tenda, MCK darurat, dan perlengkapan kesehatan. Pokoknya, upayanya cukup komprehensif.
"Efisiensi biaya itu kuncinya. Kami kolaborasi dengan TNI, Polri, dan mitra swasta untuk tekan biaya logistik. Lalu, biaya operasional seperti sewa pesawat atau akomodasi, itu tanggung pribadi saya dan Malaka," jelas Ferry, menjawab pertanyaan soal bagaimana bantuan bisa sebesar ini.
Jadi, ada tiga pilar utama: efisiensi ketat, kolaborasi strategis, dan pendanaan operasional mandiri. Itulah resepnya.
Di balik semua angka dan logistik itu, tentu ada cerita yang tak terukur: waktu, keringat, dan dedikasi tanpa henti. Ferry dan timnya telah mencurahkan segalanya, menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan bukan cuma soal transfer dana, tapi juga kehadiran dan komitmen nyata di tengah reruntuhan.
Artikel Terkait
Mahfud MD Soroti Kecerdikan Strategi Jimly dalam Kasus Etik Anwar Usman
Gubernur Pramono Bergurau dengan JK Saat Pimpin Kerja Bakti Massal Pascabanjir
Bahlil Ingatkan Kader Golkar: Posisi Strategis Bisa Diganti Kapan Saja Jika Tak Perform
Jimly Asshiddiqie Sebut Putusan 90 Jadi Titik Nadir Kredibilitas MK