Sudah hampir sebulan lamanya, banjir bandang masih menyisakan duka di Serambi Mekkah. Di tengah situasi itu, DPD PDI Perjuangan Aceh terus bergerak. Mereka telah menyalurkan puluhan ton bantuan untuk warga yang paling menderita.
Bantuan logistik berupa kebutuhan pokok itu digelontorkan sejak gelombang pertama banjir melanda akhir November lalu. Yang menarik, distribusinya menjangkau hingga desa-desa terpencil yang nyaris terisolasi dari bantuan.
Relawan Banteng Muda Aceh lah ujung tombaknya. Sejak hari-hari awal bencana, mereka sudah blusukan. Wilayah operasinya luas, mulai dari Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Lhokseumawe, sampai ke Aceh Utara. Mereka menyisir satu per satu lokasi terdampak.
Tak cuma warga lokal yang dapat perhatian. Di Bireuen, misalnya, para relawan menemukan sekelompok mahasiswa asal Simeulue yang benar-benar terjebak. Mereka pun langsung diberi bantuan logistik yang sangat dibutuhkan.
Namun begitu, perjalanan penyaluran bantuan ini tak selalu mulus. Ada kendala serius saat hendak masuk ke Aceh Tamiang dan Aceh Timur dua wilayah yang justru termasuk paling parah terdampak. Di awal bencana, akses darat ke sana benar-benar putus total. Satu-satunya cara cuma lewat udara.
Tapi, kata Ketua DPD PDIP Aceh, Jamaluddin Idham, waktu itu mereka nekat. "Kami memutuskan untuk menembus Aceh Tamiang lewat jalan yang sudah jadi lumpur dan digenangi air," ujarnya. Mereka berusaha keras mencapai desa-desa terisolir itu.
Di tengah perjalanan yang penuh risiko itu, ada momen yang bikin rombongan berhenti. Mereka melihat satu keluarga terjebak di pinggir jalan, tanpa makanan dan tempat berteduh yang layak. Spontan, bantuan darurat seperti beras, air, makanan instan, sampai perlengkapan bayi langsung diberikan di tempat.
Sementara di Aceh Timur, bantuan akhirnya bisa disalurkan ke empat kecamatan yang kondisinya paling mengkhawatirkan. Relawan masuk ke titik-titik sulit, memastikan masyarakat yang terputus aksesnya tetap dapat dukungan.
Memasuki pekan kedua pasca bencana, jangkauan diperluas lagi. Kali ini ke Aceh Selatan, Nagan Raya, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Tengah, dan Aceh Barat. Untuk memperluas distribusi, mereka memanfaatkan struktur partai yang ada di tingkat kecamatan.
Bantuan yang dibawa beragam. Mulai dari beras, makanan cepat saji, pakaian, air bersih, sampai kebutuhan pokok lain untuk pengungsi. Mereka juga tak sekadar menurunkan barang. Di beberapa titik, dapur umum didirikan untuk memastikan pengungsi dapat makanan hangat.
Jamaluddin mengungkapkan, para relawannya sudah 28 hari penuh menyisir desa-desa pelosok. "Perjalanan dan penyisiran ini belum berhenti," tegasnya.
Di balik upaya besar ini, ada dukungan dari pusat. Bantuan tersebut disalurkan berkat sokongan DPP PDIP hingga fraksinya di DPR RI. Bahkan, Tri Rismaharini, Ketua DPP PDIP Bidang Penanggulangan Bencana, turun langsung ke lapangan. Tujuannya satu: memastikan bantuan dari Jakarta sampai dengan baik ke tangan masyarakat Aceh yang membutuhkan.
"Perjalanan ini adalah wujud komitmen kami untuk hadir di tengah rakyat. Bukan hanya di kota, tetapi sampai ke desa-desa terjauh yang terisolir akibat bencana. Kami akan terus bergerak hingga seluruh masyarakat terdampak mendapatkan bantuan yang layak," kata Jamaluddin, Rabu (23/12).
Ia pun menutup dengan menyebut angka, "[Ada sekitar] 20-25 ton [bantuan yang sudah disalurkan]."
Artikel Terkait
Manchester City Kalahkan Liverpool 2-1 Berkat Gol Telat Haaland
Bayern Munich Hajar Hoffenheim 5-1, Luis Díaz Cetak Hattrick
Moodys Tegaskan Peringkat Baa2 Indonesia, Pemerhatan Soroti Ketahanan Ekonomi
Anggota DPR Soroti Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza: Perlu Kajian Teknis dan Perhatikan Beban APBN