Liburan Natal dan Tahun Baru memang selalu bikin suasana jalanan berubah total. Rest area di sepanjang tol, misalnya, sering kali penuh sesak sampai-sampai banyak pengendara yang memilih berhenti di bahu jalan. Mereka biasanya cuma butuh istirahat sebentar atau sekadar ke toilet. Tapi, hati-hati. Kebiasaan ini ternyata berisiko tinggi.
Jusri Pulubuhu, seorang instruktur keselamatan berkendara yang juga mendirikan Jakarta Defensive Driving Consultant (JDDC), dengan tegas memperingatkan hal ini. Menurutnya, berhenti di bahu jalan bahkan di dekat pintu masuk rest area tetap saja berbahaya. "Itu bukan tempat untuk beristirahat," katanya. Risiko tabrakan dari belakang atau gangguan lalu lintas sangat besar.
Di sisi lain, keramaian sudah terasa di berbagai titik wisata. H-3 Natal, tepatnya Senin 22 Desember 2025, kawasan Malioboro di Yogyakarta sudah dipadati pelancong. Pasar Beringharjo pun ramai oleh orang yang berburu oleh-oleh, dari batik sampai makanan khas. Lalu lintas di sana benar-benar padat merayap, didominasi kendaraan dengan pelat nomor dari berbagai daerah.
Data dari Dinas Perhubungan setempat cukup mencengangkan. Mereka memprediksi jumlah wisatawan yang datang ke Yogyakarta pada akhir tahun ini bisa mencapai 7 juta orang. Lebih dari separuhnya, sekitar 3,86 juta, menggunakan kendaraan pribadi. Sementara itu, KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat sudah melayani ratusan ribu penumpang dalam lima hari libur ini.
Lalu, bagaimana caranya agar perjalanan mudik kita tetap aman? Jusri punya beberapa aturan utama. Prinsip dasarnya sederhana: perencanaan matang dan manajemen risiko. Hindari jam-jam padat, fokus pada keselamatan bukan cuma cepat sampai dan yang penting, beristirahatlah sebelum tubuh terasa lelah.
"Ada dua prinsip emas yang harus dipegang," ujar Jusri.
"Pertama, lebih baik terlambat sampai daripada tidak sampai sama sekali. Kedua, mengemudi itu bukan soal cepat, tapi selamat sampai tujuan."
Dengan pola pikir seperti itu, katanya, kesabaran kita akan lebih terjaga dan ritme berkendara jadi lebih terkontrol. Apalagi di tengah kepadatan lalu lintas plus cuaca yang kadang ekstrem belakangan ini. Jusri bahkan memprediksi arus Nataru tahun ini akan luar biasa padat dan berisiko. Ia sampai menyarankan, kalau perjalanannya tidak mendesak, lebih baik ditunda dulu.
Nah, soal puncak arus, pemerintah sudah punya prediksinya. Puncak mudik diperkirakan terjadi pada Rabu, 24 Desember 2025. Sementara arus balik akan memuncak pada Jumat, 2 Januari 2026. Angkanya fantastis: sekitar 119,5 juta orang atau 42% penduduk Indonesia diperkirakan akan melakukan perjalanan.
Provinsi Jawa Barat diprediksi menjadi wilayah dengan pergerakan terbesar. Di level kota, Jakarta Timur menempati posisi puncak. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi juga menyebutkan bahwa Yogyakarta, Bandung, dan Malang akan menjadi tujuan utama liburan. Pemerintah pun kini bersiap dengan berbagai skema pengamanan dan pelayanan untuk mengantisipasi gelombang besar ini.
Intinya, persiapan ekstra memang dibutuhkan. Mulai dari memastikan kondisi kendaraan, fisik dan mental pengemudi, hingga kesiapan untuk mengubah rencana perjalanan jika situasi di jalan tidak memungkinkan. Karena di musim liburan seperti ini, satu hal yang pasti: jalanan adalah cerita yang berbeda.
Artikel Terkait
Timnas Futsal Indonesia Tumbang dari Iran di Final AFC Asian Cup Lewat Drama Adu Penalti
Panglima TNI Rotasi 99 Perwira, Mayjen Benyamin Ditunjuk Jadi Jampidmil
BRIN Buka Pendaftaran Program S2-S3 Tanpa Cuti Kerja untuk 2026/2027
Prabowo Serukan Persatuan Nasional dan Perubahan Diri di Pengukuhan MUI