Pasar Ngasem Diserbu Wisatawan, Antrean Kuliner Tradisional Mengular

- Rabu, 24 Desember 2025 | 13:36 WIB
Pasar Ngasem Diserbu Wisatawan, Antrean Kuliner Tradisional Mengular

Sejak pagi buta, suasana riuh sudah menyelimuti Pasar Ngasem di Yogyakarta. Rabu itu, tanggal 24 Desember, gelombang pengunjung seolah tak terbendung, memadati setiap sudut pasar tua yang terletak di kawasan Patehan, Kemantren Kraton itu. Musim libur Natal dan tahun baru benar-benar menyedot massa, mengubahnya jadi lautan manusia yang berdesakan antara penjual dan pembeli yang tengah mencari kuliner atau sekadar menikmati vibes-nya.

Ngomong-ngomong soal ‘vibe’, Pasar Ngasem ini kan termasuk yang sering disebut destinasi kalcer tempat nongkrong, kuliner, atau wisata yang lagi hits, estetik, dan punya nuansa budaya kuat. Nah, itulah magnetnya.

Dari pantauan langsung, banyak sekali pengunjung yang ternyata datang dari luar kota. Mereka umumnya mengetahui keberadaan pasar ini dari unggulan-unggulan menarik di media sosial. Ya, bisa dibilang, medsos jadi pemicu utama keramaian ini.

Sebagai catatan, Pasar Ngasem bukanlah pasar baru. Usianya sudah jauh lebih tua dari siapa pun yang berkeliaran di sana hari ini. Berdiri sejak 1809, pasar ini awalnya terkenal sebagai pusat perdagangan burung. Letaknya yang berdampingan dengan Taman Sari seolah memberinya napas sejarah yang kental.

Namun begitu, waktu mengubah segalanya. Perlahan tapi pasti, pasar ini bertransformasi. Kini, ia tak cuma soal burung berkicau, melainkan lebih sebagai pusat kuliner, ruang publik untuk nongkrong, dan tentu saja, spot foto yang instagramable.

Viral di Media Sosial

Di pagi hari, ritualnya biasanya sama: masyarakat berduyun mencari sarapan atau berburu jajan pasar. Dan hari itu, pemandangan itu terulang dengan skala yang lebih besar. Antrean mengular di depan lapak-lapak penjual makanan tradisional. Mulai dari nasi pecel, bubur krecek, apem, sampai terang bulan dan carabikang semua laris manis.

“Liburan kebetulan sewa hotel di Patehan. Jadi penasaran aja sama Pasar Ngasem katanya banyak kuliner ramai. Ternyata ramai beneran,”

Kata Yayan, seorang wisatawan asal Bogor, Jawa Barat, yang datang bersama keluarganya. Dia mengaku tahu soal pasar ini dari media sosial.

“Ini baru sampai. Ini anak lagi antre durian kocok,”

tambahnya sambil tertawa. Selain Pasar Ngasem, rencananya dia juga akan menjelajahi Merapi di Sleman hingga pantai-pantai di Gunungkidul.

Cerita serupa datang dari Dwi Raja Putra Manalu, mahasiswa asal Medan yang kuliah di Semarang. Dia memilih menghabiskan Natal pertamanya di Yogyakarta, dan Pasar Ngasem masuk dalam daftar wajib kunjung.

“Pertama kunjungan ke Pasar Ngasem. Menarik tapi satu hal yang saya tekankan soal kebersihan yang masih kurang. Walaupun kesan tradisionalnya masih ada,”

ungkapnya. Dwi Raja sudah mencicipi bubur dan mengaku tertarik dengan banyaknya makanan tradisional yang ditawarkan.

Di sisi lain, bagi para pedagang, keramaian ini adalah angin segar. Ririn, salah seorang penjual clorot (makanan khas Purworejo), mengaku wisatawan mulai membludak sejak Jumat lalu. Sabtu dan Minggu pun makin menjadi.

“Saya jualan clorot. Makanan khas Purworejo, Jawa Tengah,”

jelasnya. Banyak pembeli yang penasaran dengan jualannya itu.

Ririn biasanya membawa 150 ikat clorot per hari, dengan setiap ikat berisi 10 buah dan dijual Rp 20 ribu. Karena ramainya pengunjung, dagangannya bisa ludes dalam waktu singkat.

“Jam 09.00 WIB sampai jam 10.00 WIB sudah habis,”

katanya, sambil mengatur dagangan yang hampir tandas. Ramainya pasar tua ini, sekali lagi, membuktikan bahwa daya tarik sebuah tempat bisa berubah, tapi keramaiannya tetap sama.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar