Dewan Pakar BGN punya seorang anggota, Ikeu Tanziha. Gelarnya profesor, doktor, dan sederet titel lainnya, lulusan IPB.
Belakangan, ada pernyataannya yang bikin banyak orang mengernyit. Soal menu MBG yang dikritik karena ada belatung, dia berkomentar di media sosial.
“Kami takutnya, itu malah membentuk jiwa tidak bersyukur dari anak-anak.”
Wah, Bu Ikeu. Coba saya catat baik-baik. Karena Anda jelas bagian dari proyek MBG ini, dapat gaji dan fasilitas, izinkan saya beri sedikit perspektif.
Pertama, negara kita kan demokrasi. Siapa pun berhak bersuara, termasuk anak-anak. Mereka cuma menyampaikan keluhan, kok malah dibilang tidak bersyukur? Rasanya kok berlebihan sekali. Hak mereka untuk memposting atau tidak, itu sepenuhnya urusan mereka. Jangan langsung menghakimi.
Lalu, soal duit. Ini yang lucu. Proyek MBG kan pakai anggaran negara, uang rakyat dari pajak. Anak-anak dikasih makan pakai uang mereka sendiri (lewat pajak orang tuanya), kok malah disuruh bersyukur? Kalau Anda kasih makan pakai uang pribadi, baru wajar minta syukur. Ini kan uang negara triliunan rupiah bukan uang pribadi pejabat.
Di sisi lain, saya paham betul pola pikir akademisi yang dulu idealis, lalu masuk ke dalam sistem. Sikapnya sering berubah. Besok-besok kalau posisi Anda sudah tidak di dalam lagi, bisa jadi Anda justru yang paling vokal mengkritik MBG. Pendapat itu seolah cuma tergantung siapa bosnya sekarang. Jujur saja, begitu kan?
Daripada sibuk menyalahkan anak-anak, lebih baik fokus kerja. Pastikan tidak ada belatung di makanan mereka! Saya jualan buku saja, kalau ada cacat sedikit, pembeli komplain dan uangnya saya kembalikan. Tanggung jawab itu berat. Masa anak-anak disuruh makan belatung, lalu yang disoroti justru rasa syukur mereka?
Intinya sih sederhana:
Pejabat kok hobi nyalahkan rakyat.
Pejabat kok hobi nyinyirin rakyat.
Pejabat kok defensif mulu, denial terus.
(TERE LIYE)
Artikel Terkait
Ketua MA Kecewa Dua Hakim Depok Jadi Tersangka KPK
Angka Anak Tidak Sekolah di Bone Turun Drastis Berkat Validasi Data dan Program Jemput Bola
Ramadan 2026 Diperkirakan Dimulai 19 Februari, Muhammadiyah Tetapkan 18 Februari
Al-Azhar Beri Penghargaan kepada Pemerintah Indonesia atas Dukungan SDM