Kisah Pagi di Kotagede: Sebuah Kenangan yang Tak Terlupakan
Pagi itu, saya benar-benar kesiangan. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas dua, di SD Muhammadiyah Bodon. Sekolah itu letaknya tak jauh dari rumah, kira-kira cuma 300 meter. Tapi ya, namanya juga anak kecil, tiga ratus meter terasa seperti jarak yang amat jauh ketika waktu sudah mepet.
Saya pun memutuskan untuk berlari. Kaki kecil ini menyusuri jalan kampung, berusaha mengejar waktu. Di tengah jalan, saya melihat seorang bapak-bapak yang sedang bersepeda. Entah kenapa, tanpa pikir panjang saya terus berlari di belakang sepedanya, berharap bisa sampai lebih cepat.
Melihat saya yang terengah-engah, bapak itu rupanya iba. Dia menghentikan sepedanya dan menyuruh saya naik. Saya dibonceng dengan hati-hati.
“Nek tangi sing esuk, ben ora telat,” katanya dengan suara yang tenang, sesaat setelah saya turun di depan gerbang sekolah.
Kalimat sederhana itu, dalam bahasa Jawa yang halus, ternyata melekat kuat dalam ingatan. Pesannya jelas: kalau bangun pagi, tidak akan telat. Sebuah nasihat yang polos, tapi terasa sangat dalam bagi seorang anak kelas dua yang hampir tertinggal pelajaran.
Prijono, Kotagede, Yogyakarta
Artikel Terkait
Partai Gema Bangsa Tawarkan Konsep Anti-Feodalisme Menuju Pemilu 2029
Kemenangan Persak Kebumen ke Final Liga 4 Jateng Dirusak Kericuhan Suporter Rembang
Makassar Siap Jadi Tuan Rumah Sidang Pleno HIPMI 2026, Diikuti 3.000 Peserta
Menko Polhukam Apresiasi Respons Cepat TNI-Polri Tangani Penembakan Pilot di Papua