Kabarnya sudah beredar sejak beberapa waktu lalu, dan kini resmi dikonfirmasi. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, memutuskan mundur dari posisinya sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Konfirmasi ini datang langsung dari Ketua Umum partai, Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin.
“Sudah lama beliau menyampaikan niat ini,” ujar Gus Imin, saat dihubungi Selasa (23/12) kemarin.
Ia menjelaskan, Ma’ruf Amin menyatakan keinginannya untuk ‘uzlah’ menjauh dari kegiatan struktural, baik di tubuh PKB maupun di Majelis Ulama Indonesia. Meski mundur dari jabatan, bukan berarti beliau lepas tangan. “Beliau akan tetap membantu PKB,” tambah Cak Imin.
Partai sendiri sudah menindaklanjuti surat pengunduran diri itu. Tapi, keputusan akhirnya nanti diserahkan sepenuhnya kepada para sesepuh.
“Sudah kami proses. Nanti diserahkan ke para kiai aja,” jelasnya singkat.
Ini bukan satu-satunya posisi yang ditinggalkan Kiai Ma’ruf. Hampir berbarengan, kabar serupa datang dari MUI. Tepatnya, beliau juga mengundurkan diri dari jabatan Ketua Dewan Pertimbangan atau Wantim MUI.
Informasi tersebut diumumkan oleh KH Masduki Baidlowi, Juru Bicara Wapres ke-13 yang juga menjabat Ketua MUI Bidang Komdigi. Pengumuman itu dipasang di situs resmi organisasi ulama itu, juga pada hari Selasa.
Alasannya jelas dan tulus: usia. Dalam surat pengunduran dirinya, Kiai Ma’ruf menulis dengan rendah hati bahwa usianya yang sudah lanjut dan masa pengabdiannya di MUI yang terbilang sangat panjang menjadi pertimbangan utama.
“Dengan ini saya menyampaikan surat permohonan pengunduran diri dari jabatan Ketua Dewan Pertimbangan MUI masa bakti 2025-2030,” tulisnya.
“Hal ini berkaitan dengan usia saya yang sudah lanjut dan sudah terlalu lama pengabdian saya di MUI.”
Beliau merasa sudah waktunya untuk memberi kesempatan pada generasi baru. “Maka sudah saatnya saya untuk istirahat dan mengundurkan diri dari kepengurusan MUI, demi regenerasi tugas dan tanggung jawab kepada tokoh lain yang lebih muda dan kompeten,” tambahnya dalam surat itu.
Dua langkah pengunduran diri ini menandai fase baru bagi Kiai Ma’ruf. Sebuah momen peralihan, dari puncak struktur organisasi ke peran yang mungkin lebih tenang, meski tetap diharapkan memberi pencerahan.
Artikel Terkait
Keluarga Korban Tolak Damai, Tuntut Keadilan untuk Kucing yang Ditendang hingga Tewas di Blora
Polisi Ungkap Motif Perampokan Sadis di Boyolali: Utang Judi Online
KPK Tetapkan Wakil Ketua PN Depok Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Rp2,5 Miliar
Pandji Selesaikan Pemeriksaan Kasus Dugaan Penistaan Agama di Polda Metro Jaya