Ironi Negeri: Antara Kesulitan Pangan dan Penghambur-hamburan Pangan
Bayangkan suasana di sejumlah wilayah Sumatera pasca banjir bandang. Di sana, korban masih berjuang. Mereka berjibaku dengan keterbatasan yang nyata, di mana mi instan jadi santapan berhari-hari untuk balita dan anak-anak. Sementara itu, bantuan logistik dan dapur umum belum juga bisa menjangkau semua titik yang membutuhkan. Situasinya memang memprihatinkan.
Namun begitu, di sisi lain negeri ini, ada sebuah ironi yang terpampang jelas dan sulit untuk diabaikan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa ternyata tetap berjalan meski sekolah sedang libur. Makanan dibagikan dalam bentuk kering, dirapel untuk beberapa hari ke depan. Seolah-olah program ini tak boleh berhenti, walau konteksnya sudah berubah total.
Keanehannya jelas: kalau anak-anak libur, kenapa programnya tidak ikut libur juga?
Alasan-alasan teknis yang dikeluarkan terdengar dipaksakan. Seperti ada upaya untuk memastikan anggaran terserap dan catatan program tetap "berjalan". Bahkan, menurut sejumlah saksi, muncul situasi di mana anak atau orang tua harus datang ke sekolah di masa libur hanya untuk mengambil paket MBG itu meski dikatakan tidak wajib. Rasanya janggal, bukan?
Ini bukan soal anak-anak yang menerima makanan.
Ini soal ketiadaan kepekaan kebijakan.
Di saat yang sama, ketika korban bencana di Sumatera masih kesulitan mencari sesuap nasi untuk hari ini, negara justru terkesan menghambur-hamburkan pangan. Semua demi mempertahankan rutinitas sebuah program yang seharusnya bisa lebih fleksibel.
Padahal, dalam kondisi darurat, sumber daya negara seharusnya bisa lebih lentur. Dialihkan sementara untuk menyelamatkan mereka yang paling membutuhkan. Itu nalar yang sederhana, tapi tampaknya sulit diwujudkan.
Pada akhirnya, ironi ini memperlihatkan satu hal penting: masalah kita bukan terletak pada kurangnya program, melainkan pada kurangnya keberanian untuk menyesuaikan kebijakan dengan kenyataan di lapangan.
Negara yang hadir bagi rakyatnya bukan cuma negara yang disiplin menjalankan program di atas kertas. Lebih dari itu, ia adalah negara yang punya kepekaan untuk mendahulukan kemanusiaan ketika situasi menuntutnya.
(by Setiya Jogja)
Artikel Terkait
Remaja 19 Tahun Tega Bunuh dan Cabuli Bocah SD di Makassar, Polisi Tangkap Pelaku Saat Buat Keributan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas
Polisi Maros Bekuk 10 Anggota Geng Motor yang Serang Warga dengan Panah dan Senjata Tajam
Istri Yaqut Qoumas Jenguk Suami di KPK saat Idul Adha, Bawakan Tempe Goreng