JAKARTA Di balik pemandangan indah Lembang dan Bandung Barat, tersembunyi sebuah fakta geologis yang kerap jadi bahan perbincangan hangat: Sesar Lembang. Ini adalah patahan geser aktif yang membentang sekitar 29 kilometer, dari Padalarang hingga ke Jatinangor. Jalurnya bertemu dengan Sesar Cimandiri di Padalarang. Intinya, wilayah ini memang hidup di atas tanah yang dinamis.
Belakangan, obrolan soal potensi gempa besar di Bandung Raya makin riuh. Dari grup WhatsApp keluarga hingga linimasa media sosial, isu ini memicu campuran rasa khawatir dan penasaran. Memang, secara ilmiah, ancaman itu nyata. Tapi benarkah bencana akan datang dalam hitungan waktu? Pertanyaan itu menggantung, menciptakan kegelisahan yang samar-samar.
Menurut T. Bachtiar, seorang ahli yang sering membahas Sesar Lembang, patahan ini adalah ancaman senyap yang perlu dipahami, bukan ditakuti secara berlebihan. Dia menjelaskan, sesar aktif sepanjang 29 km ini punya potensi memicu gempa dengan magnitudo 6.5 hingga 7.
Yang membuatnya perlu diwaspadai adalah siklus pelepasan energinya. Gempa besar terakhir diperkirakan terjadi sekitar abad ke-15. Artinya, rentang waktu yang sudah cukup lama, membuat energi terakumulasi.
Dalam tulisannya, Bachtiar mendeskripsikan Sesar Lembang sebagai rangkaian perbukitan selebar 300 meter, membentang 22 km dari Palasari ke Cisarua. Keaktifannya jelas, karena tercatat bergerak dalam kurun Holosen 10.000 tahun terakhir.
Lalu, bagaimana sesar ini terbentuk?
Penelitian Pretty Rosanawita di ITB (2013) mengungkap, Sesar Lembang terbagi dua. Bagian timur lebih tua, terbentuk 200.000–180.000 tahun lalu akibat aktivitas Gunung Sunda purba. Sementara bagian barat lebih muda, umurnya sekitar 62.000–24.000 tahun, terkait erat dengan vulkanisme Gunung Tangkuban Parahu.
Mekanisme pembentukannya sama: runtuhnya dinding kaldera atau circumferential dike. Runtuhan besar inilah yang akhirnya menciptakan patahan yang membelah bentang alam Jawa Barat hingga sekarang, sekaligus jadi sumber potensi guncangan.
Di sisi lain, kita harus bijak menyikapi semua informasi ini. Ilmu pengetahuan bicara soal probabilitas dan mitigasi, bukan ramalan. Tidak ada yang bisa memastikan kapan persisnya bumi akan berguncang. Jadi, saat ada klaim yang terdengar terlalu pasti, sebaiknya kita tahan dulu untuk tidak ikut menyebarkan kepanikan.
Namun begitu, lengah juga bukan pilihan. Waspada itu sikap sadar. Sadar bahwa kita tinggal di kawasan rawan, sadar akan hukum alam, dan sadar bahwa persiapan itu perlu. Kewaspadaan yang rasional itu terwujud dalam hal-hal praktis: memeriksa kekokohan bangunan, menghafal jalur evakuasi, atau sekadar berdiskusi dengan keluarga soal rencana darurat. Hal-hal sederhana yang sering diabaikan, padahal bisa jadi penyelamat.
Lebih dari itu, kewaspadaan harus jadi urusan bersama. Bencana tidak pilih-pilih korban, tapi dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok rentan. Lansia, anak-anak, penyandang disabilitas. Karena itu, kesiapsiagaan harus bersifat kolektif. Kenali tetangga, kuatkan komunitas, dan sebarkan informasi yang benar dengan empati, bukan sensasi.
Di tengah ikhtiar lahiriah itu, doa punya peran penting. Berdoa bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan akan keterbatasan kita. Kita berusaha mempersiapkan segalanya, tapi akhirnya ada kekuatan yang lebih besar. Doa menenangkan batin, menjaga kita dari kecemasan berlebihan yang justru mengacaukan pikiran. Hati yang tenang membantu kita bertindak lebih rasional.
Selain meminta dijauhkan dari bencana, tak ada salahnya kita juga memohon kesiapan jika ujian itu datang. Masyarakat yang tangguh adalah yang mampu bangkit dan saling menolong. Doa semacam ini membentuk mental kuat: tidak pasrah buta, tapi juga tidak sombong merasa aman sepenuhnya.
Isu yang ramai ini seharusnya jadi momentum refleksi. Sudahkah pembangunan kota mengutamakan keselamatan jangka panjang? Atau hanya mengejar keuntungan sesaat? Sudahkah kita sebagai warga peduli dengan lingkungan dan keselamatan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih substansial daripada sekadar diteror rasa takut.
Pada akhirnya, waspada dan doa adalah dua sisi yang melengkapi. Waspada tanpa doa bisa membuat kita cemas dan kering. Doa tanpa kewaspadaan bisa membuat kita lengah. Menemukan keseimbangannya melahirkan sikap hidup yang matang: siap untuk yang terburuk, tapi tetap berharap pada yang terbaik.
Semoga kita semua dilindungi dan diberi ketenangan. Dan jika suatu saat nanti alam benar-benar menguji, semoga kita diuji dalam keadaan siap, bersatu, dan saling menguatkan. Karena yang menyelamatkan manusia bukan cuma kekuatan beton, tapi juga kekuatan hati dan kebersamaan.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Wakil Ketua PN Depok Tersangka Baru Kasus Gratifikasi Rp2,5 Miliar
Pandji Selesaikan Pemeriksaan Kasus Dugaan Penistaan Agama di Polda Metro Jaya
Islah Bahrawi Tolak Wacana Polri Dibawah Kementerian, Desak Tetap di Bawah Presiden
Pandji Pragiwaksono Jalani Klarifikasi di Polda Metro Terkait Laporan Penistaan Agama