Mualem Sebut Aceh Butuh 200 Ribu Unit Rumah untuk Warga Korban Bencana
Angkanya sungguh mencengangkan. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, menyebut kebutuhan rumah untuk korban bencana di wilayahnya bisa mencapai 200 ribu unit. Ini bukan angka main-main. Bayangkan, dampak banjir bandang dan longsor ini disebut-sebut bahkan lebih parah dari segi daya rusak dibanding tsunami laut yang melanda dua dekade lalu.
Tsunami 2004 silam, seperti tercatat dalam sejarah kelam, menghancurkan sekitar 139.195 rumah. Kini, bencana terbaru mengancam akan melampaui angka itu.
“Aceh saja mungkin sudah 200 ribu semuanya belum lagi Padang dan Sumut, Aceh kan tiap hari laporannya tambah,” ujar Mualem.
Pernyataannya itu disampaikan saat ia berkunjung ke Gayo Lues untuk menyalurkan bantuan, Sabtu (20/12/2025) lalu.
Di sisi lain, target pembangunan hunian sementara dari pemerintah pusat saat ini baru di angka 36.328 unit. Jelas, bagi Mualem, itu belum cukup. Ia pun berharap ada penambahan dari pusat. Meski begitu, ia mengapresiasi bantuan yang sudah berdatangan, baik dari swasta seperti Yayasan Budha Tzu Chi dan Danantara, maupun dari pemerintah sendiri.
“Saya rasa buat sementara cukup, tapi untuk keseluruhannya tidak cukup,” katanya lagi dengan nada realistis.
Langkah sekarang difokuskan pada persiapan lahan. Pemerintah daerah bersama kementerian terkait akan segera menurunkan alat berat untuk normalisasi. “Supaya cepat lah. Memang ini harus kita benahi semua. Semua beko-beko kita kerahkan untuk normalisasi,” tegas Mualem.
Secara keseluruhan, BNPB sebenarnya telah menyiapkan 44.045 unit huntara untuk tiga provinsi di Pulau Sumatra. Rinciannya, Sumatera Barat dapat 2.559 unit, Sumatera Utara 5.158 unit, dan Aceh mendapat jatah terbanyak, 36.328 unit.
Namun begitu, data terbaru dari posko tanggap darurat Aceh per Minggu (21/12) justru menunjukkan betapa luasnya kerusakan. Rumah rusak tercatat 119.219 unit. Belum lagi infrastruktur pendukung seperti 631 tempat ibadah, 452 sekolah, dan 192 RS serta puskesmas yang ikut hancur atau rusak.
Kerugian juga meluas ke sektor ekonomi warga. Jalan dan jembatan putus di ratusan titik. Lahan pertanian dan perkebunan yang terendam atau tertimbun mencapai puluhan ribu hektare, sebuah pukulan telak bagi kehidupan masyarakat di sana.
Fakta-fakta itu semakin mengukuhkan bahwa pekerjaan rumah untuk pemulihan Aceh dan wilayah sekitarnya masih sangat panjang. Butuh komitmen dan aksi nyata yang lebih masif lagi.
Artikel Terkait
Tumpukan Sampah Membentuk Daratan Baru, Ancam Ekosistem dan Nelayan di Pesisir Cirebon
Dinamika Ruang Ganti Memanas, Otoritas Arbeloa di Real Madrid Dipertanyakan
Akuntan di Lhokseumawe Rekayasa Begal untuk Gelapkan Gaji Relawan Rp59,9 Juta
Tim Putri Bulu Tangkis Indonesia Hadapi Thailand di Perempat Final BATC 2026