Keberhasilan bukanlah satu-satunya akhir dari sebuah ikhtiar sosial. Faktanya, banyak upaya yang kandas di tengah jalan. Niat baik kerap disalahartikan, sementara kerja keras pengabdian justru dipertanyakan kepercayaannya.
Realitas sosial, harus diakui, jauh lebih ruwet dan kompleks daripada sekadar rencana yang tersusun rapi di atas kertas. Itulah sebabnya, kegagalan sering muncul bukan lantaran kurangnya kesungguhan.
Bagi para pegiat sosial entah itu pendidik, aktivis, atau penggerak masyarakat rasa pahit saat ikhtiar tak membuahkan hasil bisa sangat menyakitkan. Yang dipertaruhkan bukan cuma program, tapi juga idealisme, kepercayaan diri, dan ketulusan hati. Tak heran, banyak yang akhirnya memilih mundur.
Pada momen itulah, kegagalan kerap dianggap sebagai titik akhir. Padahal, bisa jadi ia hanyalah sebuah babak dalam proses panjang yang belum usai.
Dari sudut pandang keimanan, tidak semua yang gagal berarti keliru. Al-Qur’an mengingatkan, kita sering hanya menilai dari apa yang kasat mata. Sementara itu, Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat itu menawarkan perspektif lain. Kegagalan dalam kerja sosial belum tentu penanda kesalahan. Bisa jadi, ia adalah bentuk perlindungan, penundaan, atau bahkan proses pematangan sebelum kita diberi amanah yang lebih besar.
Kesadaran semacam ini amat krusial, terutama bagi mereka yang bergelut di ruang-ruang sosial dan kebangsaan. Jangan berharap hasil instan. Yang justru sering menghadang adalah penolakan, resistensi, dan ketidakpercayaan. Di situasi seperti inilah keteguhan diuji: mampu bertahan meski tanpa pengakuan.
Rasulullah SAW pernah bersabda, seluruh urusan seorang mukmin pada hakikatnya adalah kebaikan. Sabda ini menegaskan, nilai sebuah ikhtiar tak hanya diukur dari hasil yang terlihat. Ketulusan niat dan kesabaran dalam menjalani proses adalah poin yang jauh lebih penting. Mereka yang gagal di satu tahap, belum tentu kalah. Bisa jadi, mereka sedang ditempa.
Namun begitu, reaksi orang terhadap kegagalan memang berbeda-beda. Ada yang menjadikannya bahan koreksi mendalam. Tapi tak sedikit pula yang memilih untuk mundur, menjauh, bahkan bersikap apatis. Padahal, justru di fase inilah komitmen kita diuji betul-betul: tetap bertahan atau menyerah ketika jalan terasa berat?
Kalau kita tilik sejarah, hampir semua gerakan sosial besar tidak lahir dari proses yang mulus. Gagasan-gagasan penting justru sering bertumbuh dari kegagalan yang berulang. Keberanian untuk terus hadir meski tanpa penghargaan adalah nyawa dari kerja-kerja kemanusiaan.
Oleh karena itu, alih-alih dijadikan alasan untuk menjauh, kegagalan seharusnya menjadi ruang untuk muhasabah. Sudah luruskah niat kita? Sudah tepattah cara yang kita gunakan? Atau jangan-jangan, kegagalan ini justru mengajarkan kita tentang kesabaran, kerendahan hati, dan kedewasaan?
Al-Qur’an juga mengingatkan, kekuatan sejati tidak cuma terletak pada hasil. Tapi pada keteguhan bersandar kepada Sang Pencipta. “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3)
Pada akhirnya, ikhtiar sosial ini bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai garis finish. Ini lebih tentang siapa yang paling ulet bertahan dalam prosesnya. Ada perjuangan yang memang mesti dilalui dalam kesunyian, tanpa sorot lampu atau tepuk tangan. Dan justru di sanalah, seringkali, makna sebuah pengabdian ditemukan.
Jadi, jika hari ini ikhtiarmu terasa tak membuahkan hasil, mungkin bukan karena ia sia-sia. Bisa jadi, waktunya memang belum tiba. Bagi mereka yang memilih untuk tetap melangkah, kegagalan bukan akhir cerita. Ia hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang menuju peran yang lebih matang dan siapa tahu jauh lebih bermakna.
Artikel Terkait
Adies Kadir Segera Dilantik sebagai Hakim MK di Hadapan Presiden Prabowo
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar