Fadli Zon Pastikan Revitalisasi Gedung Sarekat Islam Semarang Dimulai 2026

- Minggu, 21 Desember 2025 | 11:30 WIB
Fadli Zon Pastikan Revitalisasi Gedung Sarekat Islam Semarang Dimulai 2026

Di tengah hiruk-pikuk Festival Budaya Tempe di Jakarta, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan kabar yang dinanti-nanti. Pemerintah bakal merevitalisasi Gedung Sarekat Islam di Semarang. "Kita akan revitalisasi, pokoknya tahun 2026 inilah," tegasnya, Minggu (21/12) lalu.

Bagi Fadli, perhatian pada gedung tua di Kampung Gendong Utara itu bukan hal baru. Ia sudah berkunjung ke sana lebih dari sepuluh tahun silam, tepatnya di 2012 dan 2013, bahkan ikut mengampanyekan agar bangunan bersejarah itu tak terlupakan.

"Saya dulu sudah pernah datang ke situ dan ikut mengkampanyekan agar gedung itu tetap terawat dengan baik," kenangnya.

Gedung itu bukan sembarang bangunan. Statusnya sebagai cagar budaya tingkat kota sudah melekat. Lebih dari itu, ia menyimpan jejak langkah para tokoh pergerakan nasional. Tjokroaminoto, Samanhudi, bahkan Sukarno, konon pernah berkumpul di sana. Banyak peristiwa penting, termasuk Pertempuran Lima Hari di Semarang, menjadikan gedung ini saksi bisu yang bisiknya masih ingin didengar.

"Gedung Sarekat Islam itu kan gedung heritage, sudah menjadi cagar budaya meskipun di tingkat kota," ujar Fadli. "Banyak peristiwa sejarah di situ dan banyak tokoh yang mengadakan pertemuan."

Rencana serius ini sebenarnya sudah digaungkan Fadli saat ia meninjau langsung gedung tersebut pada Jumat, 19 Desember. Di hadapan awak media, ia menjelaskan skema kerjanya.

"Kementerian Kebudayaan akan mengkoordinasikan langkah revitalisasi bersama pemerintah kota (pemkot), yayasan, dan komunitas budaya," katanya.

Namun begitu, revitalisasi yang dimaksud bukan sekadar membenahi fisik bangunan seluas sekitar 1.000 meter persegi itu. Visinya lebih jauh.

"Prinsipnya, revitalisasi tidak hanya menyasar fisik bangunan, yang paling penting, gedung ini bermanfaat bagi masyarakat," jelas Fadli. "Bisa menjadi ruang belajar budaya, ruang dialog, seminar, diskusi, pameran sejarah, hingga aktivitas sastra."

Ia membayangkan sebuah ruang yang hangat, tempat warga bisa berkarya, berdiskusi, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil menyelami sejarah.

Memang, kondisi gedung saat ini memprihatinkan. Meski beberapa perbaikan pernah dilakukan, masalah seperti kebocoran atap dan akar pohon yang menembus dinding masih terlihat. Tapi Fadli justru optimistis. Sekitar 70-80 persen struktur aslinya, termasuk pilar kayu jati dan tulisan "S.I." yang ikonik, masih terjaga utuh.

"Keaslian bangunan masih sangat kuat," ujarnya. "Struktur kayu masih seperti foto pada tahun 1920-an, lalu bentuk atap, hingga tulisan Sarekat Islam masih ada. Ini modal penting untuk pelestarian."

Di sisi lain, Pemerintah Kota Semarang menyambut baik rencana ini. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengapresiasi perhatian pusat. Ia pun menyepakati jadwal pemugaran di 2026 nanti.

Hanya saja, karena statusnya sebagai cagar budaya sejak 2014, prosesnya tak boleh asal. Agustina menegaskan, pemugaran harus mengikuti kaidah pelestarian yang ketat dan melibatkan tenaga ahli bersertifikasi. Tak cuma itu, peran masyarakat juga dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutannya.

Ke depan, ia berharap gedung ini bisa benar-benar hidup sebagai ruang publik. Tempat yang tak hanya diam memandang masa lalu, tetapi juga aktif digunakan warga untuk berbagai aktivitas budaya dan sosial. Sebuah upaya merawat identitas Kota Semarang sebagai kota pergerakan, dengan cara yang relevan untuk generasi sekarang.

Komentar