Di sesi tanya jawab, ada peserta yang curhat tentang trauma masa kecil akibat pelecehan seksual. Pertanyaannya, bagaimana agar hal serupa tidak terulang pada adik-adik kita? Jawabannya kembali ke poin tadi: melawan dan bersuara. Ibu Nurchayati menambahkan, diam hanya akan membuat pelaku terus mengganggu dan akhirnya merusak kesehatan mental korban.
Untuk mengatasi tekanan emosional, Pria Ruru Pangestu mengajarkan teknik pernapasan sederhana. “Tarik napas dalam-dalam lewat perut, bukan dada. Lalu keluarkan perlahan lewat mulut sambil memberi afirmasi positif pada diri sendiri,” ujarnya. Para peserta pun langsung mempraktikkannya.
Ini adalah sosialisasi kedua yang digelar STIKOM dan STDI Interstudi, berlangsung pada Selasa (16/12/25). Tahun sebelumnya, acara serupa sudah diadakan dengan menghadirkan Ellen Juita Gultom, M.Ed dari Satgas PPKPT Universitas LIA.
Selain edukasi soal bentuk-bentuk kekerasan, acara tahun ini juga menyentuh aspek ketahanan mental dan cara perlindungan diri. Tujuannya ganda: memberi pemahaman yang komprehensif dan mendorong seluruh warga kampus untuk aktif mencegah kekerasan sekaligus menjaga kesehatan mental mereka.
Seperti tahun lalu, acara tidak hanya serius tapi juga meriah. Ada bazar dan fashion show menampilkan karya mahasiswa STIKOM dan STDI. Ignatius memukau dengan tariannya, sementara Chelsea menghibur dengan solo song. Bahkan, sebelum diskusi dimulai, Zidane membawakan Tari Soya-Soya dari Maluku Utara tarian sakral yang penuh semangat dan filosofi perlawanan.
Konon, tarian ini adalah simbol keberanian dan pantang menyerah, dulu digunakan untuk menjemput jenjang Sultan Khairun. Dalam konteks kekerasan, semangatnya tetap relevan: sebuah perlawanan ketika ada yang berusaha menindas.
(SUN)
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai