Drone ELN Gempur Pangkalan Militer, Tujuh Prajurit Kolombia Tewas

- Sabtu, 20 Desember 2025 | 00:48 WIB
Drone ELN Gempur Pangkalan Militer, Tujuh Prajurit Kolombia Tewas

Suasana malam di Aguachica, sebuah kota di Kolombia yang berbatasan dengan Venezuela, tiba-tiba berubah jadi mencekam Kamis lalu. Dari langit, datang ancaman yang tak terduga. Kelompok gerilya ELN atau Ejército de Liberación Nacional melancarkan serangan ke sebuah pangkalan militer. Mereka menggunakan drone yang dimodifikasi dengan bahan peledak.

Akibatnya parah. Tujuh anggota tentara Kolombia dilaporkan tewas dalam serangan itu. Tidak kurang dari tiga puluh orang lainnya menderita luka-luka. Kejadian ini memperpanjang daftar kekerasan yang terjadi pekan ini.

Memang, baru dua hari sebelumnya, tepatnya Selasa, aksi serupa sudah terjadi di tempat lain. Di kota Cali, dua petugas polisi menjadi korban tewas dalam sebuah insiden yang disebut-sebut mirip. Situasi keamanan tampaknya sedang memanas.

Merespons hal ini, Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, tidak tinggal diam. Lewat sebuah unggahan di platform media sosial, ia menyuarakan kecamannya dengan keras.

"Saya secara kategoris menonton tindakan teroris ELN yang menggunakan drone dan meluncurkan alat peledak terhadap Pangkalan Militer," tulisnya.

ELN bukan kelompok baru. Mereka sudah bergerak sejak 1964, terinspirasi oleh gejolak revolusi Kuba. Fakta ini menjadikan mereka kelompok gerilya tertua yang masih aktif di seluruh Amerika. Kekuatan mereka cukup signifikan, terutama di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai penghasil narkoba utama di Kolombia.

Upaya perdamaian sebenarnya pernah diusahakan. Presiden Gustavo Petro, yang naik jabatan pada 2022, mencoba pendekatan berbeda. Sebagai mantan gerilyawan sendiri, ia memilih jalur diplomasi dan dialog dengan kelompok-kelompok bersenjata, termasuk yang terlibat dalam bisnis kokain. Sayangnya, jalan itu menemui jalan buntu. Negosiasi akhirnya gagal, dan kini negara itu kembali menghadapi dentuman senjata.

Komentar