Dibongkar Mantan Intel: Prabowo Disebut Murid Terbaik Jokowi
Isu soal Presiden Prabowo Subianto yang "tersandera" kekuatan lama lagi-lagi ditepis. Kali ini, suara yang membantah justru datang dari dalam lingkaran intelijen sendiri. Sri Radjasa, seorang mantan aparat intelijen yang kini jadi pengamat, punya pandangan berbeda. Menurut dia, Prabowo sama sekali tidak dalam tekanan. Malah, dia satu frekuensi dan satu garis politik dengan Joko Widodo, presiden sebelumnya.
Pernyataan Radjasa ini muncul dalam sebuah video yang ramai beredar di media sosial dan YouTube. Dia terlihat tegas meminta masyarakat jangan mudah termakan narasi-narasi drama yang sengaja dibuat.
“Kita jangan tertipu dengan sandiwara mereka. Kalau ada yang bilang Prabowo tersandera, itu bohong. Dia mengikuti jejak dan meniru apa yang dilakukan Jokowi. Prabowo murid terbaik dari guru politiknya, yaitu Jokowi,”
Begitu tegasnya Sri Radjasa, Jumat lalu. Dia bilang, kesinambungan kebijakan dari era Jokowi ke Prabowo ini bukan hasil paksaan. Bukan juga kompromi yang terpaksa. Ini lebih ke pilihan sadar, sebuah kesepahaman ideologis yang memang sudah dari sononya. Radjasa menilai, sejak awal Prabowo sudah memposisikan diri sebagai penerus, bukan sebagai pihak yang mau mengoreksi atau membongkar sistem yang sudah jalan.
Di sisi lain, dia juga menyinggung soal motif di balik isu "sandera" itu. Katanya, banyak elit politik sengaja memainkan isu itu untuk membangun simpati. Seolah-olah Prabowo itu korban, terjebak dalam bayang-bayang kekuasaan Jokowi yang masih kuat. Padahal, relasi mereka jauh lebih dalam dan strategis dari yang dibayangkan.
“Ini bukan hubungan sandera-menyandera. Ini hubungan guru dan murid, partner strategis yang sejalan. Jangan dibalik narasinya,”
Ucapannya ini makin menguatkan anggapan bahwa pemerintahan Prabowo akan melanjutkan saja pola yang sudah dibangun. Gaya kepemimpinan, model pengambilan keputusan, semuanya kemungkinan besar tak jauh beda dengan apa yang dijalankan Jokowi selama sepuluh tahun terakhir. Intinya, pergantian presiden belum tentu berarti pergantian arah angin.
Reaksi publik pun beragam. Ada yang bilang pernyataan Radjasa ini berani, membongkar mitos politik yang selama ini dijual bebas. Tapi tak sedikit yang justru melihatnya sebagai alarm. Jangan-jangan, perubahan yang dijanjikan selama kampanye cuma perubahan kosmetik belaka. Hiasan luar saja.
Sampai detik ini, belum ada tanggapan resmi dari Istana atau lingkaran dalam Prabowo soal pernyataan sang mantan intel ini. Tapi yang jelas, perdebatan tentang siapa yang sesungguhnya mengendalikan kemudi kekuasaan nasional kembali memanas. Ruang publik pun kembali riuh.
Artikel Terkait
5 Februari dalam Catatan: Apollo 14 Mendarat di Bulan hingga Pemberontakan Kapal Belanda
Adies Kadir Segera Dilantik sebagai Hakim MK di Hadapan Presiden Prabowo
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos