Lalu, pertanyaan mendasarnya sebenarnya sederhana: benarkah sawit solusi untuk krisis energi kita, atau ini cuma ekspansi ekstraktif berwajah baru?
Faktanya, BBM berbasis sawit tetap bergantung pada harga CPO global dan subsidi pemerintah. Ketika harga anjlok, satu-satunya solusi yang sering diambil adalah memperluas lahan lagi. Ini bukan transisi energi. Ini sekadar memperpanjang ketergantungan pada komoditas tunggal.
Masalahnya juga bukan cuma soal lingkungan. Kegagalan model pembangunan masa lalu harusnya jadi pelajaran berharga. Sekarang kita tengah menghadapi defisit fiskal dan beban utang yang makin membesar. Bahkan World Bank mencatat, lebih dari separuh penduduk kita masih hidup dalam kemiskinan.
Jelas, model ini sudah gagal. Gagal menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan, gagal mendistribusikan kemakmuran. Yang kaya makin kaya, negara terjebak defisit, dan kerusakan lingkungan jadi warisan pahit untuk anak cucu.
Papua bukanlah halaman kosong yang siap dicoret-coreti proyek investasi. Ia adalah ujian terakhir bagi kita semua: mampukah negara belajar dari kegagalan di Sumatera, atau akan mengulanginya lagi? Dengan hutan sebagai korban, dan oligarki sebagai pemenangnya.
Pembangunan yang miskin kreativitas, lalu memilih merusak ekologi, bukanlah kemajuan. Itu cuma cara lama yang gagal dan sekarang diulang di tempat baru.
(")
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Cuaca Makassar Berawan Sepanjang Hari Rabu
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian