Kengerian Gaza dan Luka yang Tak Lagi Mengejutkan Dunia

- Senin, 15 Desember 2025 | 12:40 WIB
Kengerian Gaza dan Luka yang Tak Lagi Mengejutkan Dunia

✍🏻 SHAUN KING (Aktivis Muslim AS)

Izinkan saya bicara blak-blakan: apa yang terjadi di Pantai Bondi itu salah total. Menyerang warga sipil yang tak bersenjata dalam sebuah perayaan Hanukkah? Itu kejahatan. Titik. Tak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan penembakan terhadap kerumunan seperti itu.

Minggu lalu, tepatnya 14 Desember 2025, enam belas nyawa melayang di Pantai Bondi, Sydney. Mereka sedang merayakan Hanukkah. Adegannya kacau balau. Keluarga-keluarga berlarian menyelamatkan diri di atas pasir. Anak-anak berusaha bersembunyi. Yang membuat pilu, salah satu korban adalah seorang penyintas Holocaust. Dia tewas dalam perayaan Yahudi itu, dikelilingi anak dan cucunya. Seorang ayah dan anaknya melepaskan tembakan ke arah kerumunan. Rekaman videonya sungguh mengerikan.

Dan ini yang berat untuk diakui: sekejam apa pun serangan ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa otak saya tidak lagi terkejut oleh pembantaian semacam ini. Kenapa? Karena saya, seperti banyak orang, telah menyaksikan pembantaian tanpa henti selama 24 jam sehari di Gaza.

Saya ingin berbagi apa yang saya lihat dan rasakan hari ini. Dan menurut saya, dunia justru jadi lebih berbahaya pasca peristiwa Bondi ini.

Gaza Telah Melampaui Batas Kengerian

Sudah lebih dari dua tahun, Gaza menjadi siaran langsung kengerian yang belum pernah disaksikan manusia dalam skala dan frekuensi seperti ini. Ini bukan cuma soal satu video viral atau satu insiden yang ramai dibicarakan akhir pekan. Ini tentang banjir darah yang konstan, setiap hari, menampilkan hal-hal terburuk yang bisa dibayangkan.

Bayangkan: anak-anak terhimpit beton, orang dewasa terbakar hidup-hidup, bayi-bayi mati kedinginan di tenda yang kebanjiran. Seluruh keluarga lenyap oleh satu serangan. Orang-orang kelaparan di depan kamera. Kuburan massal. Mayat-mayat yang terus dikeluarkan dari reruntuhan. Semuanya terekam, terfoto, terunggah, dan tersebar.

Intinya, Gaza telah mengubah kemampuan saya untuk merasa terkejut.

Enam belas orang tewas di Bondi adalah mimpi buruk. Sungguh memilukan. Tapi sekarang, saya melihat enam belas orang tewas setiap hari di kapal-kapal yang dibom AS. Saya melihat enam belas orang tewas dalam satu serangan di kamp pengungsian Rafah. Saya melihat enam belas anak tewas di satu ruang kelas. Gaza telah mengubah angka "enam belas korban" dari berita utama yang langka menjadi pemandangan harian yang berulang.

Saya yakin saya tidak sendirian. Banyak orang yang saya ajak bicara hari ini berkata hal serupa: "Ini mengerikan, tapi reaksi saya tidak seperti dulu lagi." Bukan karena kami tidak peduli pada nyawa warga Yahudi atau Australia. Tapi karena otak kita kebanjiran paparan kekerasan tingkat tinggi yang belum pernah dialami generasi mana pun. Sistem saraf kita sedang berusaha bertahan.

Inilah bahayanya. Genosida tak cuma membunuh orang. Ia membanjiri dunia dengan begitu banyak kebrutalan, sampai-sampai orang biasa kehilangan kemampuan untuk merasakan kengerian yang seharusnya ketika tragedi baru terjadi. Kalau Anda sudah menyaksikan ribuan anak dibunuh di Gaza tanpa ada pertanggungjawaban, apa reaksi Anda saat melihat penembakan massal di tempat lain? Pikiran Anda akan bilang, "Ini mengerikan," tapi di saat bersamaan juga bergumam, "Ya, inilah dunia sekarang."

Itu tidak sehat. Tidak normal. Dan ini bukan kebetulan.

Standar Pembunuhan yang Dinormalisasi Israel Itu Mengerikan

Poin kedua ini lebih sensitif. Saya akan coba menyampaikannya sejujur mungkin.

Selama genosida ini berlangsung, Israel terus-menerus membela standar tentang siapa yang "boleh" dibunuh, dan standar itu sungguh mengerikan. Mereka bilang, kalau seseorang berfoto dengan anggota Hamas, itu target sah. Bekerja di kementerian yang punya kaitan dengan Hamas, meski di posisi yang tak berhubungan? Target sah. Menyatakan dukungan untuk serangan 7 Oktober atau Hamas secara umum? Target sah. Bukan cuma mereka, tapi juga siapa pun yang kebetulan ada di sekitar mereka saat bom jatuh.

Ini bukan teori. Ini praktik yang terjadi hari demi hari. Rumah, jalan, menara apartemen dibom berdasarkan siapa yang ada di foto, di mana seseorang bekerja, atau apa yang mereka dukung.

Preseden ini sangat berbahaya.

Karena begitu Anda mengatakan pada dunia, "Kalau kamu menandatangani bom dan merayakan kekerasan massal, kalau kamu mendukung genosida secara terbuka, kalau kamu berfoto dengan para pembunuh dan memberi restu itu saja sudah membuatmu jadi target sah," maka pintu itu terbuka lebar, dan tidak hanya untuk Gaza.

Nah, salah satu korban di Bondi adalah Rabbi Eli Schlanger, asisten rabi dari Chabad Bondi. Dia digambarkan sebagai pendeta yang berdedikasi dan dicintai. Tapi, berdasarkan unggahan yang beredar, dia juga diketahui menandatangani rudal untuk IDF, berfoto dengan tentara Israel, dan dengan lantang mendukung klaim bahwa Tepi Barat adalah milik eksklusif orang Yahudi.

Sekali lagi, izinkan saya tegaskan: apa yang terjadi di Bondi itu salah. Menyerang warga sipil tak bersenjata adalah kejahatan. Tak ada pembenaran.

Tapi, coba dengankan pemikiran yang kini mungkin ada di benak jutaan orang, meski mereka takut mengatakannya keras-keras.

Kalau seorang warga Palestina di Gaza melakukan hal persis seperti Rabbi Schlanger berfoto dengan pejuang Hamas, menandatangani roket, mendukung kekerasan massal, mengklaim tanah Israel pasti akan bilang itu cukup untuk menargetkan dan membunuhnya. Mereka akan membom orang itu dan semua yang di sekitarnya, lalu muncul di TV dan berkata, "Kami telah menyingkirkan target sah."

Itulah standar pembunuhan yang diciptakan Israel. Brutal. Sembrono. Dan dampaknya tidak terbatas di satu tempat.

Saya tidak bilang kita harus mengadopsi standar itu. Sama sekali tidak. Saya cuma bilang, ketika sebuah negara kuat bersikeras selama setahun bahwa begitulah cara dunia bekerja, ketika mereka terus meneriakkan bahwa pendukung dan orang yang berfoto selfie adalah target militer yang sah, jangan heran kalau logika itu mulai meracuni pikiran orang di tempat lain.

Ini seperti kotak Pandora. Sekali terbuka, sulit ditutup. Anda tidak bisa mengajarkan teologi "bersalah karena keterkaitan" lalu berharap tidak ada seorang pun yang akan membalikkan logika yang sama kepada Anda.

Jawabannya bukan merayakan Bondi. Jawabannya adalah menolak total logika pembunuhan Israel itu. Bilang tidak tidak boleh mengebom warga sipil karena mereka berfoto dengan seseorang. Tidak boleh membunuh orang karena mendukung tentara yang salah. Tidak boleh memusnahkan seluruh keluarga karena satu orang di gedung itu menandatangani bom.

Kalau kita tidak menolaknya sepenuhnya, logika ini akan terus menyebar.

Pria Muslim yang Heroik Melawan Penembak

Poin ketiga ini tentang cahaya di tengah kegelapan: seorang pria Muslim tak bersenjata yang berhasil menghentikan penembakan di Bondi, dan tertembak dua kali karenanya.

Namanya Ahmed al Ahmed, 43 tahun, pemilik toko buah, ayah dua anak. Dalam video yang beredar, Anda bisa lihat salah satu penembak bersembunyi di balik pohon palem. Lalu terlihat Ahmed, yang awalnya bersembunyi di balik mobil, tiba-tiba berlari mendekati si penembak.

Dia menerjang, merebut senjata, dan mengarahkannya kembali ke penembak, memaksanya mundur. Ahmed lalu menurunkan senjata dan mengangkat tangan agar polisi tahu dia bukan pelaku. Dalam aksi nekat itu, dia tertembak di lengan dan tangan. Dia sudah dioperasi. Sepupunya bilang ke media Australia, "Dia pahlawan, 100% pahlawan."

Perdana Menteri New South Wales memujinya sebagai pahlawan sejati yang menyelamatkan banyak nyawa. PM Australia juga memberi pujian. Bahkan Donald Trump, dalam sebuah acara di Gedung Putih, menyebut Ahmed orang yang sangat berani dan menyatakan hormatnya.

Coba pikirkan sejenak. Di dunia di mana Muslim sering digambarkan sebagai ancaman, sebagai tersangka, di dunia di mana Palestina direndahkan, justru seorang pria Muslim yang berlari menuju tembakan di acara Yahudi dan mungkin menyelamatkan puluhan nyawa orang Yahudi.

Di sisi lain, beberapa suara Yahudi dan Kristen paling lantang di dunia justru mendukung genosida terhadap Muslim di Gaza, menyemangati penghancuran, menandatangani bom.

Inilah paradoks dunia kita: seorang pria Muslim berdarah-darah di rumah sakit karena memilih melindungi orang-orang yang mungkin takut padanya di jalan biasa; sementara imannya terus dikaitkan dengan kekerasan, padahal dialah yang mempertaruhkan nyawa untuk menghentikannya.

Kita harus melihat Ahmed dengan jelas. Sebut namanya. Bukan sebagai catatan kaki, tapi sebagai fakta sentral dari kisah ini.

Apa yang terjadi di Bondi memang memilukan. Itu kejahatan. Lima belas orang tewas, termasuk seorang rabi, penyintas Holocaust, warga Prancis, dan lainnya. Orang-orang bersembunyi di bawah panggangan barbekyu sambil menggendong bayi. Remaja awalnya mengira suara tembakan adalah kembang api, sampai mereka melihat mayat di pasir.

Tapi saya tidak bisa memisahkan ini dari Gaza. Saya tidak bisa pura-pura bahwa satu tahun genosida tidak mengubah cara pikir kita. Saya tidak bisa mengabaikan bahwa logika pembunuhan Israel menciptakan preseden menakutkan. Dan saya tidak bisa melupakan bahwa seorang pria Muslim bernama Ahmed berlari ke arah peluru, sementara dunia sering menggambarkan Muslim seolah-olah merekalah pelurunya.

Hati saya hancur. Rasa terkejut saya hancur. Dan dunia, sayangnya, terasa lebih berbahaya dari sebelumnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar