Asap tebal masih mengepul dari Los C2 Pasar Induk Kramat Jati, Senin pagi itu. Si jago merah telah melahap habis sekitar 350 kios di blok itu, yang sebagian besar dihuni pedagang buah. Dalam sekejap, puluhan tahun usaha hangus jadi abu.
Untungnya, tak ada korban jiwa yang berjatuhan. Tapi, coba tanya soal kerugian. Bagi para pedagang, ini adalah pukulan telak. Harta benda mereka lenyap begitu saja.
Di antara mereka ada Ibu Par, seorang pedagang pepaya berusia 60 tahun yang bahkan tinggal di pasar itu. Baginya, pasar adalah segalanya. Dan pagi itu, segalanya itu musnah.
"Semua barang-barang saya habis, ya mau duit, mau semua yang di dalam ya habis semua yang di laci,"
suaranya lirih saat ditemui di lokasi kejadian. Wajahnya tampak lelah dan pasrah.
Menurut ceritanya, uang hasil jerih payah berjualan ia simpan dengan cara lama: di dalam kaleng, disembunyikan di kiosnya. Uang itu bukan cuma untuk hidup sehari-hari, tapi juga rencananya berzakat untuk anak yatim. Sekarang? Tinggal kenangan. Api telah mengubah semua rencana itu menjadi debu.
"Kalau orang tua dulu kan di kaleng buat tabungan, untuk (anak) yatim dipisah, untuk kita sendiri. Kalau nanti pulang mendadak atau apa ada simpenan lain. Saya kan gak bisa nabung di bank, jadinya kita nabungnya di badan saya aja yang di kaleng, bawah kasur, juga di pasar,"
tambahnya menerangkan kebiasaannya menabung. Jumlahnya sekitar Rp 5 juta. Bukan angka kecil bagi seorang pedagang seperti dirinya.
"Yang di kaleng, bawah kasur, nggak ada yang selamat, ini aja (buah) kebakar makanya kita lari, rusak semua, nggak ada yang kemakan,"
kenang Par tentang kepanikan saat itu.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions