Kerusuhan Kalibata Berawal dari Penagih Utang Tewas Dikeroyok

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 12:24 WIB
Kerusuhan Kalibata Berawal dari Penagih Utang Tewas Dikeroyok

Kerusuhan di sekitar TMP Kalibata Kamis lalu berawal dari hal yang tragis. Dua orang penagih utang, atau yang biasa disebut 'mata elang', tewas dikeroyok. Kejadian itu memicu amarah.

Tak lama setelahnya, massa diduga rekan-rekan korban menggeruduk kawasan persis di seberang taman makam itu. Mereka tak main-main. Warung tenda kuliner dan kios permanen dibakar, hingga situasi mencekam.

Menanggapi hal ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung angkat bicara. Ia menegaskan, lahan yang digunakan para pedagang UMKM itu sebenarnya milik pemprov.

"Kebetulan lahan yang digunakan itu lahannya pemerintah kota semua. Tentunya kami sedang mengorganisasikan, me-reorganisasi tentang ini,"

kata Pramono, usai membuka sebuah konferensi di Balai Kota, Jakarta Pusat, Sabtu (13/12).

Menurutnya, Pemprov DKI masih mendalami persoalan ini sebelum mengambil keputusan final. "Kami sedang meminta kepada UMKM untuk mempelajari. Nanti pada saatnya saya segera putuskan. Tapi itu lahannya, lahannya Pemerintah Jakarta semuanya," ujarnya lagi.

Di sisi lain, Pramono menyoroti soal penegakan hukum. Ia mengaku sudah berkoordinasi penuh dengan aparat kepolisian.

"Saya sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan saya sudah meminta untuk ditegakkan hukum. Karena memang awalnya kelihatannya kecil, kemudian terjadi kekerasan, yang akhirnya beban itu menjadi beban pemerintah DKI Jakarta,"

ucap dia tegas.

Ia punya harapan jelas. "Saya enggak mau itu terjadi di Jakarta, terulang kembali. Untuk itu, saya memberikan keleluasaan dan juga karena ini sepenuhnya tugas aparat penegak hukum, biarkan mereka menyelesaikan ini terlebih dahulu,"

sambungnya. Intinya, ia ingin kasus seperti ini tak lagi terulang, sambil menyerahkan proses hukum sepenuhnya pada pihak berwajib.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar