Para Dai Jadi Ujung Tombak Bantuan di Tengah Duka Aceh dan Sumatera

- Selasa, 09 Desember 2025 | 19:00 WIB
Para Dai Jadi Ujung Tombak Bantuan di Tengah Duka Aceh dan Sumatera

Jakarta – Hampir seribu nyawa melayang. Itulah dampak mengerikan dari banjir bandang dan tanah longsor yang menyapu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November lalu. Ribuan lainnya terluka, sementara ratusan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Kerusakannya parah: jembatan-jembatan runtuh, sekolah hancur, fasilitas umum tak berfungsi. Banyak desa terisolasi, terkepung oleh lumpur dan air. Bagi para penyintas, hidup kini adalah perjuangan sehari-hari di tengah segala keterbatasan.

Menanggapi situasi ini, LAZNAS Dewan Dakwah langsung bergerak. Mereka menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang paling menderita. Menariknya, ujung tombak operasi ini justru para dai mereka sendiri. Mulai dari koordinasi di lapangan, mendampingi warga yang trauma, hingga menembus daerah-daerah yang sulit dijangkau, para relawan berbaju koko ini berada di garis depan.

Sejak hari pertama bencana, tim sudah diterjunkan ke ketiga provinsi. Operasi ini dipimpin oleh sejumlah dai setempat, didukung oleh sekitar 25 relawan.

Ustaz Asrof Abdu Syakur memimpin di Aceh.

Sementara untuk Sumatera Utara, koordinasinya dipegang Ustaz Rodhi.

Dan di Sumatera Barat, Ustaz Sayyaf Siraj yang memegang kendali.

Mereka dengan cepat membentuk tim tanggap darurat dan mendirikan posko sebagai pusat komando. Saat ini, setidaknya sudah ada 11 posko yang beroperasi tersebar di tiga provinsi.

Di Aceh, bantuan terdistribusi melalui beberapa titik. Antara lain di Desa Meue, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya. Lalu di Desa Baro Yaman, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Titik lain ada di Desa Seupeu, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Juga di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, serta di wilayah Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Sementara di Sumatera Barat, posko berdiri di Kenagarian Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Juga di Palembayan dan Malalak, yang masih dalam kabupaten yang sama. Untuk koordinasi kota, ada posko di Jalan Srigunting No. 2, Air Tawar Barat, Padang Utara. Mereka juga berkolaborasi dengan Jaringan Rumah Sakit Ibnu Sina setempat.

Untuk Sumatera Utara, pusat kegiatannya berkedudukan di Jalan Laksana, Kelurahan Kota Matsum IV, Medan Area.

Bergerak di Tengah Keprihatinan

Kondisi di lapangan sungguh tidak mudah. Akses jalan terputus, hujan masih sesekali mengguyur, listrik dan sinyal telepon sering mati. Belum lagi lumpur tebal yang menyelimuti segalanya. Tapi, tim ini tetap nekat bergerak. Bersama pemerintah daerah, mereka melakukan berbagai hal.

Mulai dari mendistribusikan bantuan pokok seperti paket kebersihan, air minum, makanan siap saji, popok bayi, dan sembako. Mereka juga mengoperasikan dapur umum, membantu mengevakuasi barang-barang warga yang masih bisa diselamatkan. Pekerjaan fisik seperti pembersihan permukiman juga mereka lakukan. Tak ketinggalan, layanan kesehatan dasar dan penyediaan alat komunikasi darurat untuk koordinasi.

Yang mengharukan, beberapa dai dan daiyah di daerah itu sendiri sebenarnya juga menjadi korban. Rumah mereka ikut terendam atau rusak. Tapi pilihan mereka jelas: tetap di depan, membantu warga yang lain.

Seperti yang dialami Ustazah Fudhla. Rumahnya di Desa Pante Lima, Pidie Jaya, terendam banjir hampir tiga meter. Sudah sebelas hari pasca-bencana, desanya masih berlumpur dan genangan air setinggi betis. Meski begitu, ia tak berhenti mendampingi tim bersama Ustaz Asraf untuk menyalurkan bantuan.

Cerita serupa datang dari Ustaz Samsul di Aceh Tamiang. Ia terisolasi selama delapan hari penuh tanpa listrik dan sinyal. Daerahnya termasuk yang terparah kerusakannya; sunyi senyap bagai kota mati.

Data terbaru dari BNPB per 8 Desember 2025 sungguh memilukan: 953 orang meninggal, 275 masih dinyatakan hilang, dan sekitar 5.000 orang luka-luka. Kerusakan infrastruktur dan fasilitas pendidikan pun sangat luas.

LAZNAS Dewan Dakwah menyatakan mereka tak akan mundur. Komitmen untuk memberikan layanan kemanusiaan akan terus berlanjut. Para dai ini akan tetap berada di garda terdepan, bukan hanya memulihkan kondisi fisik, tetapi juga menguatkan mental dan spiritual masyarakat hingga benar-benar pulih.

Dalam waktu dekat, Tim Pusat dari Jakarta akan terjun langsung ke lokasi. Mereka akan mengawal kiriman bantuan dari Menara Dakwah di Kramat Raya 45 menuju posko-posko di Agam, Sumatera Barat. Rencananya, konvoi kemanusiaan yang terdiri dari mobil rescue, truk tangki air, dan truk logistik ini akan berangkat pada Jumat, 12 Desember 2025.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar