Lumpur di rumah-rumah korban banjir belum juga kering. Bahkan, masih ada mayat yang belum ditemukan. Sementara itu, banyak orang masih berjuang mati-matian mencari bantuan untuk sekadar bertahan hidup.
Di tengah situasi seperti ini, Presiden malah memilih terbang ke Pakistan. Sungguh ironis, mengingat belum lama ini dia sempat menegur seorang Bupati yang pergi umroh saat bencana. Padahal, kalau dipikir-pikir, si Bupati itu pakai duit pribadi. Lha, kalau kunjungan kenegaraan ke Pakistan ini? Jelas menggunakan anggaran negara yang jumlahnya bisa mencapai belasan miliar rupiah.
Semuanya terjadi saat para korban banjir masih sangat menderita.
Memang begitulah potret negeri kita sekarang. Marwahnya seolah hilang begitu saja. Aturan untuk orang lain, tapi berbeda untuk yang di atas. Fenomena ini merata, dari warganet biasa sampai para pejabat tinggi. Dan yang paling menyedihkan, semuanya berjalan seperti biasa, seolah tak ada yang salah.
Ada yang berkilah, “Kan dia ke sana urusan lingkungan hidup.”
Tapi cobalah renungkan sejenak. Untuk sekadar berpikir adil dan konsisten saja, kita sudah dibuat susah payah.
Kita ini bangsa yang besar. Benar-benar besar dalam hal… keluguan.
(Tere Liye)
"
Artikel Terkait
BEM SI Tinjau Langsung Gudang Bulog, Stok Beras Nasional Capai Rekor 5,2 Juta Ton
Presiden Prabowo Terima Laporan Reformasi Polri, Instruksikan Perubahan Bertahap hingga 2029
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Zero Tolerance terhadap Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Agama
118 BEM Nusantara Dialog Langsung dengan Mentan, Bahas Swasembada Pangan hingga Koperasi Desa