Di sisi lain, upaya ini punya tujuan ganda. Selain untuk membangun kedaulatan pangan nasional, langkah ini diharapkan bisa membuat SMK jadi lebih menarik di mata anak muda. Selama ini, minat terhadap sekolah vokasi di sektor ini dinilai masih perlu ditingkatkan.
Mu’ti berharap, pendekatan berbasis lokal ini bisa mendekatkan siswa pada alam dan kearifan budaya daerah mereka sendiri. Tapi tentu saja, bukan sekadar kembali ke tradisi. Sekolah juga dituntut untuk membekali siswa dengan kemampuan teknologi mutakhir. Tujuannya jelas: agar potensi alam yang melimpah itu bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi, yang pada akhirnya mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan.
“Itu yang nanti coba kami kembangkan,” kata Mu’ti.
Namun begitu, tantangannya tidak kecil. Bagi Mu’ti, revitalisasi SMK ini juga merupakan upaya untuk mengubah stigma yang sudah melekat lama. Ada persepsi usang yang perlu dirombak.
“Ada tantangan kultural di mana sebagian generasi muda berpendapat, menjadi petani itu seakan identik dengan mereka yang tidak berpendidikan, ekonominya lemah, dan penampilannya kurang keren. Dengan ini, kami ingin mengubah mindset itu,”
ucapnya. Impiannya sederhana: menjadikan profesi di sektor pertanian dan kelautan sebagai pilihan karier yang membanggakan, modern, dan tentu saja, menjanjikan.
Artikel Terkait
Bandara Sultan Hasanuddin Sambut Pemudik dengan Hampers Kejutan di Conveyor Belt
Lille Kalahkan Rennes 2-1 di Roazhon Park, Perkuat Posisi di Papan Atas
AVC Tetapkan Grup Champions Club Asia 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah dengan Dua Wakil
Simon Grayson Resmi Jadi Asisten Pelatih Timnas Indonesia