Bayangkan saja, 50 ton beras medium. Kalau dihitung kasar dengan asumsi harga Rp12.000 per kilogram, nilainya bisa mencapai Rp600 juta. Jumlah yang fantastis, bukan? Tapi yang bikin miris, uang sebanyak itu bukan berasal dari kocek pribadi. Itu jelas uang negara uang rakyat yang cuma ditempeli stiker pribadi.
Di sisi lain, coba bandingkan dengan kasus Ferry Irwandi yang nilainya tembus lebih dari Rp10 miliar. Nominalnya jauh lebih besar, tapi setahu publik, tak ada satu pun stiker nama dia yang menempel di sana. Gimana ini?
"
Nah, sekarang kita mulai paham. Mungkin ini salah satu alasan kenapa bantuan pemerintah pusat terasa lambat sampai ke lokasi bencana di Sumatera. Kegiatan menempel stiker bergambar wajah calon tertentu di karung beras rupanya makan waktu juga. Ya, lucu sekaligus menyedihkan.
Bencana alam seharusnya bukan panggung politik. Pemilu masih lama, tapi sepertinya ada yang sudah tak sabar menjadikan duka orang lain sebagai ajang kampanye. Alih-alih meninggalkan kesan baik, bantuan berstiker seperti justru menurunkan kredibilitas. Jatuh kelas, jadi terlihat sama saja seperti politisi lain yang dianggap pencitra.
(Joko Intarto)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu