Banjir Aceh dan Jejak Konsesi Hutan yang Dikaitkan dengan Prabowo

- Kamis, 04 Desember 2025 | 15:00 WIB
Banjir Aceh dan Jejak Konsesi Hutan yang Dikaitkan dengan Prabowo

Banjir besar yang melumpuhkan Aceh baru-baru ini, menurut Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), punya kaitan erat dengan satu peta konsesi hutan. Konsesi itu, seluas hampir 100 ribu hektare, berada di bawah PT THL perusahaan yang dikaitkan dengan Prabowo Subianto.

Wilayahnya membentang di beberapa kabupaten: Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Utara. Nah, di situlah masalahnya mulai terlihat.

Lewat akun X-nya @jatamnas, organisasi itu menyoroti sebuah pola. Konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) itu, kata mereka, cuma satu bagian dari teka-teki yang lebih besar.

“Konsesi ini berdiri berdampingan dengan puluhan izin tambang, HTI, HPH, dan kebun sawit berskala raksasa,” tulis Jatam, Rabu (3/12/2025).

Semua izin itu, mereka bilang, bekerja sama menggerus tutupan hutan di pegunungan dan hulu sungai. Akibatnya, daerah tangkapan air rusak. Kemampuan alam untuk menahan limpasan hujan pun melemah.

Lalu datanglah hujan ekstrem. Air yang seharusnya diserap tanah justru meluncur deras. Menurut Jatam, inilah yang memicu bencana.

“Air mengalir deras membawa lumpur dan kayu ke pemukiman, menjadikan banjir bandang di Aceh sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir,” ujar mereka.

Ribuan rumah tenggelam. Puluhan ribu orang terpaksa mengungsi.

Peta yang dirilis Jatam menunjukkan sesuatu yang menarik. Kabupaten-kabupaten yang paling parah terdampak dan berstatus siaga darurat seperti Pidie Jaya, Aceh Tengah, hingga Aceh Singkil ternyata punya cerita yang lebih dari sekadar luapan sungai.

Memang, penjelasan resmi menyebutkan hujan berhari-hari sebagai pemicu. Tapi peta itu menambahkan lapisan fakta lain. Di hulu sungai yang sama, bertumpuk izin: lebih dari 30 izin tambang mineral dan batu bara, ditambah konsesi kayu dan HTI. Totalnya mencapai 132 ribu hektare lebih, dan membentang hingga ke pinggiran permukiman warga.

Ambil contoh Linge di Aceh Tengah. Di sana, PT THL mengelola hampir 100 ribu hektare hutan.

“Warga telah lama memprotes keberadaan konsesi tersebut karena merampas ruang hidup mereka dan mengubah hutan adat menjadi kebun industri pinus.”

Jadi, apa kesimpulannya? Bagi Jatam, bencana di Aceh ini bukan sekadar musibah alam biasa.

Ini juga soal bagaimana lahan-lahan raksasa dikuasai oleh segelintir elit, termasuk mereka tegaskan presiden yang ikut menentukan seberapa parah air bah menerjang kampung-kampung di hilir.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar