Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan
Firman Tendry Masengi
Aktivis 98 / Alumni GMNI
Gegap gempita kesalehan hari ini seringkali cuma pajangan. Seperti perhiasan di etalase, ia dipamerkan. Tapi di balik itu, ada kehancuran yang memalukan. Agama direduksi jadi sekumpulan ritual tanpa nurani. Ibadah berubah jadi kosmetika spiritual belaka. Shalat, yang seharusnya menggerakkan, malah jadi alat pelarian dari tanggung jawab kita sebagai manusia.
Hadits agung “khairunnās anfa‘uhum lin-nās” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain sekarang seperti mayat. Terkapar di pinggir jalan. Ditinggalkan oleh umat yang, maaf, mabuk pahala dan pekak terhadap jeritan mereka yang tertindas. Fondasi teologi pembebasan itu kini terlupakan.
Gustavo Gutiérrez, bapak Teologi Pembebasan dari Amerika Latin, punya pandangan keras soal ini. Baginya, agama kehilangan makna kalau tidak berpihak pada yang menderita.
“Tugas teologi adalah mengubah dunia,”
tulisnya. Bukan menidurkan nurani di balik doa-doa panjang yang steril dari aksi nyata. Teologi itu lahir dari jeritan, bukan dari menara gading. Jadi, ketika ibadah tak melahirkan pembebasan, ia cuma jadi alat penindas yang dipoles pakai nama Tuhan. Ironis, bukan? Lahirlah umat yang mengira diri calon penghuni surga, tapi diam-diam jadi arsitek neraka dunia.
Ibadah yang Kehilangan Jiwa
Ambil contoh shalat. Pilar agama ini sering berubah jadi monumen kosong. Saf-saf diluruskan dengan sempurna, tapi cuma merapikan barisan tubuh. Persaudaraan? Itu lain cerita. Ruku’ dan sujud dilakukan dengan ketelitian teknis tinggi, namun tanpa kegelisahan moral sedikitpun. Umat menekuk punggung di hadapan Tuhan, tapi menegakkan dada di hadapan sesama yang hancur oleh ketidakadilan.
Lihatlah masjid-masjid megah yang berdiri bak istana. Gema ayat suci bergema keras di dalamnya. Tapi suara tangis orang miskin, jerit buruh yang dieksploitasi, tak pernah sampai ke telinga. Ini ironi yang kejam. Jutaan orang melafalkan doa meminta dijauhkan dari api neraka, tapi hati mereka beku menyaksikan neraka dunia yang nyata.
Neraka upah murah. Neraka tanah yang dirampas. Neraka seorang ibu tak mampu beli obat untuk anaknya. Neraka buruh migran pulang dalam peti mati.
Gutiérrez punya istilahnya: “mistik yang memutus realitas.” Agama yang hanya menatap langit sambil membiarkan bumi terbakar. Kesalehan yang menolak politik dan pembelaan pada korban adalah palsu. Sebab, cinta pada Tuhan harus nyata dalam pembebasan konkret manusia dari struktur yang zalim. Mereka takut pada neraka Tuhan, tapi tenang-tenang saja menciptakan neraka sosial.
Kesucian yang Cuma di Permukaan
Mari kita tertawa. Tawa getir, tentu saja, melihat tragedi ini.
Orang shalat tahajud, tapi esok paginya merancang skema korupsi. Orang menyempurnakan bacaan surat Al-Qur'an, lalu menyempurnakan pula eksploitasi pada buruhnya. Bersedekah seribu rupiah untuk konten media sosial, tapi mencuri miliaran di balik layar. Menangis dalam sujud panjang, tapi air mata untuk penderitaan orang lain justru mengering.
Betapa absurd keadaannya. Kita berlomba dapat pahala, tapi tidak berlomba untuk menjadi manusia yang sebenarnya.
Ritual tanpa kemanusiaan bukanlah kesalehan. Itu karikatur agama. Komedi hitam ibadah. Kuburan spiritual yang cuma dibungkus sajadah hias nan indah.
Gutiérrez mengingatkan kita. Spiritualitas yang tidak mencabik struktur ketidakadilan hanyalah candu. Pengalihan perhatian biar umat merasa suci, tanpa perlu bertanya: siapa yang mati agar kita bisa hidup nyaman? Kesalehan kosmetik adalah industri ilusi. Memproduksi simbol-simbol kudus untuk menutupi fakta pahit: agama telah jadi mesin yang menormalisasi penindasan.
Shalat Bukan Pelarian, Tapi Revolusi
Dalam ideologi Islam yang sejati, shalat seharusnya adalah deklarasi perlawanan.
Allahu Akbar berarti menolak segala berhala: tirani, uang, kekuasaan yang korup.
Hayya ‘alal falaah adalah panggilan menuju kemenangan sosial, bukan kemenangan egoistik pribadi.
Iyyāka na‘budu artinya kita hanya tunduk pada-Nya, bukan pada penindas.
Assalāmu ‘alaikum adalah janji untuk mengantarkan damai, bukan sekadar salam kosong tanpa tindakan lanjut.
Gutiérrez menegaskan, doa sejati adalah tindakan historis. Berdoa berarti bertindak dalam sejarah untuk mengakhiri penderitaan. Kalau shalat tidak mengubah struktur ketidakadilan, maka ia cuma suara tanpa tubuh. Teologi pembebasan menuntut ibadah jadi aksi transformatif, bukan anestesi moral atau bius yang menidurkan.
Tapi apa jadinya kalau umat justru mengubah shalat jadi anestesi moral itu? Ketika sajadah jadi tiket pelarian dari realitas, bukan basis perlawanan? Saat itulah agama berubah. Dari cahaya pembebasan, ia menjadi selimut kemunafikan yang tebal.
“Khairunnās anfa‘uhum lin-nās.”: Bukan Hiasan Dinding
Hadits ini bukan kata-kata mutiara lembut untuk dibingkai cantik di ruang tamu. Ia adalah palu teologis yang harus menghancurkan egoisme religius kita. Ia manifesto ideologis: kesalehan hanya sah kalau berpihak pada manusia.
Sebaik-baik manusia bukanlah yang bacaan shalatnya paling merdu. Bukan yang penampilannya paling rapih dan suci. Bukan pula yang punya pengikut dakwah paling banyak.
Tetapi yang paling keras melawan ketidakadilan, dan paling besar manfaatnya bagi manusia lain.
Tanpa itu, ibadah kita hanyalah parade. Pameran kesombongan spiritual belaka.
Bagi Gutiérrez, keberpihakan pada orang miskin adalah “opsi preferensial”. Itu pilihan moral yang wajib, bukan sekadar opsi. Iman sejati diuji dalam keberpihakan, bukan dalam kemewahan seremonial. Tuhan tidak hadir dalam dekorasi masjid yang mewah, tapi dalam tubuh mereka yang terinjak dan tertindas.
Mari jujur, walau sakit. Banyak dari kita lebih takut kehilangan surga, daripada kehilangan nurani. Lebih gentar pada api akhirat, daripada pada api penderitaan manusia yang terpanggang hari ini di dunia. Lebih rela memoles kesucian diri sendiri, daripada menyembuhkan luka sesama.
Dan mungkin, nanti di Hari Pembalasan, suara paling mengguncang bukan teriakan para pendosa. Tapi rintihan pilu mereka yang dulu dibakar dalam neraka dunia oleh tangan-tangan para ahli ibadah.
Sebab, tiada artinya sujud panjang jika kaki tak berjalan menuju keadilan. Tiada gunanya air mata shalat jika hati membatu terhadap kesusahan manusia. Dan tak ada maknanya takut pada neraka, jika kita sendiri sibuk menciptakan neraka bagi orang lain.
Sebelum azan berikutnya berkumandang, ada satu pertanyaan menggantung yang tak bisa kita hindari:
“Sebenarnya, kita ini menyembah Tuhan atau hanya menyembah ego sendiri?”
Artikel Terkait
ART di Maros Curi Perhiasan dan Uang Majikan, Kabur ke Makassar
Indikasi Perjokian dan Pemalsuan Dokumen Warna Hari Pertama UTBK SNBT 2026 di Unesa
Hari Bumi 2026 Serukan Our Power, Our Planet, Ajak Aksi Nyata
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Bervariasi: Cerah Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Siang hingga Sore