Hujan masih mengguyur pelan ketika warga Kandy, Sri Lanka, mulai mengais-ngais puing. Mereka mencari apa saja yang bisa diselamatkan barang, kenangan, atau mungkin tanda kehidupan dari reruntuhan rumah yang hancur diterjang longsor. Bencana itu datang tak lama setelah Topan Ditwah melanda, menghantam dataran tinggi dengan angin kencang dan hujan yang tak henti.
Menurut sejumlah saksi, situasinya benar-benar kacau. Tanah bergerak tak terduga, menyapu permukiman dalam sekejap. Korban jiwa terus bertambah, dan angka terbaru yang dikutip dari Reuters sungguh memilukan: 355 orang tewas. Yang mencemaskan, masih ada 366 orang lainnya yang dinyatakan hilang, nasibnya belum jelas.
Di sisi lain, dampak siklon ini ternyata jauh lebih luas. Bukan cuma longsor, tapi juga banjir besar yang turut melumpuhkan wilayah. Kombinasi mematikan ini menjadikan Ditwah salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah dihadapi negara itu.
Artikel Terkait
Penyidikan Polda Metro Jaya Dianggap Tunduk pada Perintah dari Solo, SP-3 Dinilai Cacat Hukum
Gol Tangan Gibran di Wamena: Insiden Kecil yang Picu Badai Kritik
Listrik Aceh Tamiang 98 Persen Pulih, Tim PLN Fokus Hidupkan Enam Desa Terakhir
Sopir Angkot Pamer Kemaluan, Aksi Mesum Terekam dan Viral