Senin kemarin, Presiden Prabowo Subianto blusukan ke wilayah bencana di Sumatera Utara. Langsung ke lokasi, beliau memantau penanganan korban banjir dan longsor yang memorak-porandakan sejumlah daerah. Salah satu titik yang disambanginya adalah Tapanuli Selatan, wilayah yang cukup parah terdampak.
Hingga Minggu malam, angka korban jiwa terus bertambah. Sudah 442 nyawa melayang akibat amukan alam ini. Daerah yang terdampak cukup luas, merata dari Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, hingga Bener Meriah, Padang, Padang Panjang, dan Takengon. Sungguh situasi yang memilukan.
Di tengah keprihatinan itu, Prabowo berusaha menenangkan. Dia memastikan bahwa seluruh kekuatan pemerintah dikerahkan untuk menanggulangi bencana ini. Menurutnya, situasi perlahan-lahan mulai menunjukkan perbaikan.
"Kita monitor terus, saya kira kondisi membaik, saya kira kondisi sekarang sudah cukup,"
kata Prabowo kepada para wartawan yang meliput.
Ia juga menambahkan, fokus utama saat ini adalah menembus daerah-daerah yang masih terisolasi. Bantuan logistik dan medis harus segera sampai ke tangan korban. Kabar baiknya, cuaca di lapangan mulai bersahabat.
"Kita hadapi, kita bersyukur cuaca membaik, ramalannya juga yang terburuk sudah lewat,"
tutupnya singkat.
Lantas, apa penyebab utama bencana ini? Ternyata, Siklon Tropis Senyar-lah biang keroknya. Sistem badai ini memicu hujan lebat tak henti, yang kemudian berujung banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Secara sederhana, siklon tropis adalah sistem badai bertekanan rendah yang berputar kencang. Ia terbentuk di lautan hangat daerah tropis, dan biasanya membawa serta angin kencang serta hujan deras yang merusak.
Namun begitu, BMKG telah menyatakan bahwa Siklon Tropis Senyar ini sudah punah sejak 28 November lalu. Artinya, ancaman terbesarnya telah berlalu.
Menurut Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, fenomena seperti ini sebenarnya jarang terjadi di perairan Selat Malaka.
"Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,"
jelasnya.
Dia pun mengingatkan,
"BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi dampak cuaca yang dapat muncul selama sistem ini bergerak di sekitar wilayah tersebut."
Peringatan yang sayangnya baru terbukti setelah bencana datang.
Artikel Terkait
Harga BBM Non-Subsidi Tembus Rp 25 Ribu, Menteri ESDM: Itu untuk Orang Kaya
Harga Emas Perhiasan Minggu Pagi: Stagnan di Raja Emas, Naik di Laku Emas
Progres Pembangunan Jalan Multiyears Project di Sulsel Capai 25 Persen
Polisi Tangkap Otak Pembunuhan di Hotel Timika, Motif Balas Dendam