Kisah Haru Hafithar, Bocah 8 Tahun yang Tumpang Tinggal Demi Sekolah

- Senin, 24 November 2025 | 12:30 WIB
Kisah Haru Hafithar, Bocah 8 Tahun yang Tumpang Tinggal Demi Sekolah
Perjalanan Seorang Pelajar

Setiap hari, Hafithar yang masih berusia delapan tahun itu menempuh perjalanan jauh. Dari Tangerang ke SDN 4 Klender di Jakarta Timur, bolak-balik demi bersekolah. Kisahnya beredar dan bikin banyak orang kagum. Bukan cuma pada semangatnya, tapi juga kemandirian anak kelas 1 SD itu.

Menurut Kepala Sekolah SDN 4 Klender, Dwiyanti Lestari, perjuangan Hafithar tak akan lama lagi. Rencananya, ia bakal pindah sekolah akhir Desember 2025.

"Sampai semester satu aja di sini, semester dua nanti akan pindah,"

katanya saat ditemui pada Senin (24/11).

Alasannya, sang ibu dapat pekerjaan baru di Parung, Bogor. Jadilah kepindahan itu diputuskan usai pembagian rapor nanti.

Namun begitu, sebelum akhirnya pindah, ada solusi sementara yang cukup menghangatkan hati. Hafithar akan tinggal di rumah temannya, Gibran, yang lokasinya tak jauh dari sekolah. Orang tua Gibran dengan sukarela menampungnya.

"Memang banyak orang-orang tua yang baik yang mau menampung Hafithar di rumahnya karena perjalanannya yang panjang ya dari rumah ke sekolah,"

ujar Dwiyanti.

Awalnya, Hafithar sempat ogah-ogahan pindah. Dia merasa betah dengan guru dan teman-temannya di sekolah yang sekarang. Tapi keadaan memang nggak memungkinkan untuk terus begini.

"Mamah Hafithar memberi keputusan kepada pihak sekolah bahwa nanti semester dua Hafithar akan pindah di daerah Parung ya di semester dua,"

tambahnya.

Di balik semangatnya, ada cerita yang bikin hati trenyuh. Hafithar adalah anak yatim. Ayahnya telah meninggal lima tahun silam. Dia anak bungsu dari lima bersaudara. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Nah, begitu pindah ke Bogor nanti, biaya sekolahnya akan ditanggung oleh majikan ibunya. Semacam angin baik setelah lama berjuang.

"Memang itu keputusan orang tuanya, kami juga tidak memaksakan karena orang tuanya sudah mendapat pekerjaan gitu, dan memang sudah diurus untuk di sana mencarikan sekolah dan sebagainya oleh bosnya orang tuanya,"

jelas Dwiyanti lagi.

Jadi, meski harus berpisah dengan kawan-kawannya, setidaknya ada harapan lebih baik menanti di Bogor.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar